Cepat, Lugas dan Berimbang

Memuliakan Tradisi Kampus Bonek STPMD APMD Yogyakarta

Jogja, infopertama.com – Ketua STPMD APMD Yogyakarta, Dr. Sutoro Eko Yunanto, menyampaikan pidato kelembagaan saat Dies Natalis ke-60 kampus Sarjana Rakyat yang dipimpinnya.

Berikut salinan pidato kelembagaan Dr. Sutoro Eko yang dikutip infopertama.com, Senin, 17 November 2025.

Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD”, yang tengah merayakan tanggap warsa ke-60, bukanlah kampus “darah biru”, bukan pula kampus plat merah besutan negara. Dan, bukan pula kampus padat modal, melainkan, meminjam kosakata pendukung Persebaya – kampus bondo nekat (bonek). Sang pendiri, Pak Topo dan kawan-kawan Eks Brigade 17, dengan tekad dan nekat, mendirikan APMD, berlandasan komitmen sejarah, sosiologis, dan etik untuk berbalas budi kepada rakyat desa, yang di masa perjuangan 1945-1950, rakyat desa menyatu dan menyokong logistik pasukan Tentara Pelajar.

Semangat pendirian APMD adalah membuka akses rakyat bonek dari desa bisa mengenyam kuliah di perguruan tinggi. Karena itulah, nama “desa” disematkan pada kampus bonek ini.

Dari waktu ke waktu, mahasiswa kampus bonek tidak hanya berasal dari desa-desa yang menyokong logistik perjuangan, tetapi juga berasal dari seluruh penjuru republik, penjuru negeri yang nun jauh dari Yogyakarta. Sebagian besar mahasiswa adalah kaum bonek, alias rakyat jelata, meski ada pula sebagian kecil mahasiswa yang berasal dari keluarga jelita. Rakyat jelita pintar adalah wajar, rakyat jelata bodoh adalah lumrah, rakyat jelita bodoh adalah tolol, rakyat jelata pintar adalah istimewa. Tetapi kampus bonek ini menghindari dikotomi kosakata kolonial – pintar versus bodoh – melainkan lebih suka menghadirkan rakyat, yang kemudian menjelma menjadi “kampus sarjana rakyat”, yang politically rakyat berbeda dengan kaum elite (pembesar), namun rakyat memiliki kekuatan besar sebagai fondasi bagi kekuasaan republik.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN