Cepat, Lugas dan Berimbang

Memuliakan Tradisi Kampus Bonek STPMD APMD Yogyakarta

Komitmen sejarah, sosiologis, dan etik maupun formasi sosial mahasiswa di kampus bonek APMD tentu berbeda dengan kampus plat merah, kampus borjuis, kampus darah biru, maupun kampus pabrik (korporasi). Arus utama kampus adalah meyakini bahwa dirinya merupakan pusat peradaban manusia dan bangsa, sehingga mereka selalu mengejar predikat center of excellence yang maju, unggul, dan bergengsi.

Sebaliknya, sisi kerakyatan, yang melekat pada komitmen dan formasi sosial kampus APMD, sekaligus telah disematkan sebelumnya menjadi nilai agung dalam Pancasila dan UUD 1945, adalah landasan kebajikan dan tradisi kampus bonek.

Tradisi sebenarnya bersifat alamiah dan universal dalam kehidupan manusia di muka bumi, yang menunjuk pada nilai, budaya (cipta, rasa, karsa) adat istiadat, ritual, kepercayaan, kebiasaan, dan praktik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi merupakan pusat identitas dan representasi komunitas.

Di dunia Barat, pemikiran yang mengejawantah menjadi beragam “isme” juga disebut sebagai tradisi. Wangsa Ustmaniyah, yang mendirikan Turkiye pada abad ke-14, meyakini bahwa “orang yang mengabaikan tradisi akan kehilangan cahaya, orang yang kehilangan cahaya akan sulit menemukan masa depan”. Restorasi Meiji Jepang pada akhir abad ke-19, gencar melakukan revolusi industri mengikuti Barat, tetapi tetap disertai pesan bermakna sang Kaisar: “Kita bisa menjadi bangsa modern tetapi tidak boleh melupakan siapa jati diri kita”.

Dengan kalimat lain, Jepang adalah sebuah eksemplar tentang kesanggupan menavigasi negara-bangsa dan masyarakat dengan menggabungkan tradisi dan modernitas, jauh sebelum lahir teori modernisasi di dunia Barat. Jepang memberi pengalaman tentang “modern tanpa meninggalkan tradisi, merawat tradisi tanpa ketinggalan zaman”.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN