Cepat, Lugas dan Berimbang

Menjaga Air Tetap Bening, Tugas Pemikir di Tengah Kekeruhan Zaman

Oleh: Aji Priyo Utomo

infopertama.com – Sebening apa pun air, bila dibiarkan diam terlalu lama, ia akan keruh. Permukaannya mungkin tetap memantulkan cahaya, tetapi di dasarnya tumbuh lumut, endapan, dan bibit penyakit.

Sebaliknya, air yang keruh ketika dialirkan, digerakkan, dan diberi jalan, perlahan menemukan kejernihannya kembali. Alam mengajarkan satu hukum sederhana, yang membusuk bukan semata yang kotor, melainkan yang berhenti bergerak.

Begitu pula peradaban manusia. Masyarakat sering memuja ketenangan, padahal tidak sedikit ketenangan hanyalah nama lain dari kebekuan. Kita diajari untuk patuh, diam, dan menerima apa yang telah mapan. Seolah, kemapanan identik dengan kebenaran. Padahal banyak kebusukan justru bertahan karena tak seorang pun berani mengusiknya. Ketidakadilan paling awet bukan karena ia kuat, melainkan karena terlalu lama dianggap biasa.

Pikiran yang tidak bergerak akan bernasib seperti air tergenang. Ia dipenuhi prasangka yang diwariskan, keyakinan yang tak pernah diuji, serta moralitas yang sekadar dihafal. Orang-orang merasa telah mengetahui segalanya, padahal yang mereka miliki sering kali hanya kebiasaan untuk tidak bertanya. Dalam keadaan demikian, kebodohan tampil sopan, bahkan sering duduk di kursi terhormat.

Di sinilah tugas seorang pemikir bermula. Ia bukan sekadar pengumpul teori atau perangkai kata-kata rumit. Tugasnya ialah mengaduk genangan, mengguncang kenyamanan palsu, dan membuka saluran bagi arus pertanyaan.

Ia menjaga agar yang bening tidak dicemari kekuasaan, dan yang keruh tidak dibiarkan membatu menjadi nasib. Pemikir sejati lebih dekat pada tukang bersih-bersih peradaban daripada selebritas intelektual.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN