Cepat, Lugas dan Berimbang

Menjaga Air Tetap Bening, Tugas Pemikir di Tengah Kekeruhan Zaman

Tentu pekerjaan itu berisiko. Setiap zaman cenderung memusuhi mereka yang mengusik tidur panjangnya. Orang yang bertanya dianggap berbahaya, orang yang berpikir dicurigai, orang yang jujur sering diasingkan. Keterasingan kerap menjadi harga yang harus dibayar oleh siapa pun yang menolak ikut hanyut dalam arus kepura-puraan. Socrates meminumnya dalam cawan racun, banyak lainnya meminumnya dalam bentuk sunyi.

Namun lebih berbahaya dari keterasingan seorang pemikir adalah masyarakat yang kehilangan pemikir. Sebab ketika tak ada lagi yang berani menggerakkan air, maka kekeruhan akan dianggap kejernihan, kebisingan dianggap pengetahuan, dan kebohongan diperlakukan sebagai tata tertib. Pada saat itu manusia hidup bukan dalam terang, melainkan dalam kebiasaan gelap yang dinormalisasi.

Karena itu kejernihan bukan keadaan tetap, melainkan perjuangan tanpa akhir. Kebenaran tidak diwariskan seperti benda mati; ia harus terus dicari, diuji, dan dibersihkan dari debu kepentingan. Air mesti mengalir, pikiran mesti bergerak, dan nurani mesti dijaga agar tidak membeku. Sebab setiap kali manusia berhenti berpikir, di situlah kekeruhan mulai berkuasa.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN