Nurani dan Bahaya Kompromi Kecil

“Sekali nurani mati, manusia memang masih bisa hidup secara sosial—punya jabatan, peran, dan pengaruh—tetapi ia kehilangan pusat moralnya.”

infopertama.com – Kejahatan besar hampir selalu bermula dari sesuatu yang tampak kecil: diam yang dibiarkan, keberanian yang ditunda, dan suara batin yang disuruh menunggu. Jarang sekali keburukan lahir dari satu lompatan ekstrem. Ia tumbuh pelan, dari kebiasaan berkompromi dengan hal-hal yang sebenarnya kita tahu salah.

Di titik itulah nurani diuji. Bukan oleh kejahatan yang terang-terangan, melainkan oleh keburukan yang rapi: dikemas sebagai prosedur, dibungkus sebagai kebijakan, dan dijelaskan dengan bahasa yang terdengar rasional. Kita diajak menerima yang keliru sebagai “kenyataan”, dan yang benar sebagai sesuatu yang “tidak praktis”.

Padahal nurani bukan sekadar perasaan halus. Ia adalah kompas moral. Dan kompas yang mulai diabaikan tidak langsung membuat kita tersesat. Kita masih bisa berjalan, bekerja, bahkan memimpin. Tetapi arah yang kita tuju perlahan berubah. Kita tetap bergerak, namun makin jauh dari kebenaran.

Gus Dur pernah mengingatkan, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Kalimat sederhana itu menegaskan bahwa ukuran utama tindakan publik bukanlah kepentingan, jabatan, atau kemenangan, melainkan apakah ia masih berpihak pada martabat manusia. Ketika kebijakan, aturan, atau perintah mulai mengabaikan sisi kemanusiaan, di situlah nurani seharusnya bicara.

Merawat keberanian untuk berkata “tidak” ketika yang salah disuruh menjadi benar adalah tugas yang sunyi. Ia tidak selalu heroik. Ia sering justru membuat seseorang dianggap merepotkan, tidak kooperatif, atau tidak tahu diri. Dalam sistem yang mengagungkan kepatuhan, suara nurani kerap diperlakukan sebagai gangguan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel