Menjadi

Menjadi

“Life is a process of becoming.”

Oleh: Aji Priyo Utomo★

infopertama.com – Tidak ada benih yang lahir dengan kepastian akan menjadi pohon sebesar apa. Ia hanya menembus tanah yang gelap, mencari cahaya, lalu bertumbuh seturut musim. Hujan tak pernah memilih di mana ia harus jatuh. Angin tak pernah menyesali arah yang membawanya. Hanya manusia yang kerap gelisah terhadap ukuran dirinya sendiri.

Barangkali karena sejak kecil kita diajarkan memandang puncak, tetapi jarang diajak memahami akar. Kita mengagumi gunung, namun lupa bahwa gunung berdiri karena tanah yang setia menyangganya. Kita mengenang para pemenang, tetapi sering melupakan mereka yang bekerja tanpa nama agar kemenangan itu mungkin terjadi.

Mungkin di situlah letak kekeliruan kita.

Kita terlalu sibuk bertanya, “Akan menjadi apa aku?” Padahal kehidupan lebih dahulu bertanya, “Akan menjadi siapa engkau bagi sesamamu?”

Beberapa hari terakhir saya kembali membaca puisi Douglas Malloch, Be the Best of Whatever You Are. Tak lama kemudian saya mendengarkan kembali puisi “Kerendahan Hati” karya Taufiq Ismail. Dua penyair yang dipisahkan oleh bahasa, kebudayaan, dan zaman itu ternyata bertemu pada satu keyakinan yang sama: manusia tidak diminta menjadi yang paling besar, melainkan menjadi yang paling baik dalam perannya.

Douglas Malloch menulis:

“Jika engkau tak dapat menjadi pohon cemara di puncak bukit, jadilah belukar yang terbaik di lembah.”

Kalimat itu tampak sederhana. Namun semakin lama direnungkan, semakin terasa bahwa ia sedang mengoreksi cara kita memandang keberhasilan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel