Oleh: Aji Priyo Utomo
infopertama.com – Pengetahuan pertama seorang anak tidak lahir dari sekolah, melainkan dari rumah. Sebelum mengenal huruf, seorang anak lebih dahulu mengenal suara ibunya. Sebelum memahami teori tentang sopan santun, ia menyaksikan bagaimana orang dewasa memperlakukan orang lain. Before mengenal definisi kejujuran, ia belajar dari cara orang-orang di sekitarnya berkata benar atau berbohong.
Anak belajar dengan meniru, mengulang, menyaksikan, lalu membiasakan.
Sekolah Pertama dan Batas Rasa Ingin Tahu
Rumah sesungguhnya adalah sekolah pertama, masyarakat adalah ruang kelas yang lebih luas, dan kehidupan adalah buku pertama yang dibaca manusia. Tetapi rasa ingin tahu anak tidak pernah mengenal batas. Ketika ia semakin tumbuh, pertanyaannya menjadi semakin banyak.
Keluarga dan lingkungan terdekat tidak selalu mampu memberikan seluruh jawaban yang dibutuhkannya. Pada saat itulah sekolah hadir sebagai lembaga yang secara khusus membuka cakrawala pengetahuan. Namun, sekolah tidak boleh berhenti hanya menjadi tempat untuk membuat anak sekadar “tahu”.
Sebab mengetahui belum tentu memahami. Memahami belum tentu menghayati. Dan menghayati belum tentu mengubah seseorang menjadi manusia yang lebih baik. Di sinilah persoalan pendidikan menjadi lebih dalam daripada sekadar kurikulum.
Antara Pengetahuan dan Pembentukan Nilai
Sekolah semestinya bukan hanya pusat transfer of knowledge, tetapi juga ruang transfer of value. Pengetahuan dapat membuat seorang anak mengetahui bahwa kejujuran adalah sesuatu yang baik, tetapi pengetahuan tentang kejujuran belum tentu membuatnya jujur.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











