Yang Diingat Murid Bukan Pelajarannya, Melainkan Perlakuan Gurunya

Oleh: Aji Priyo Utomo★

infopertama.com – Apa yang sebenarnya dibawa pulang seorang murid dari sekolah?

Apakah lembar demi lembar catatan yang pernah ia tulis dengan tergesa?

Apakah rumus-rumus yang suatu hari akan terlupakan?

Ataukah angka-angka di rapor yang perlahan memudar bersama waktu?

Barangkali bukan itu.

Yang paling lama tinggal dalam ingatan justru sesuatu yang tidak pernah tertulis di buku pelajaran.

Cara seorang guru memandangnya ketika ia gagal.

Cara seorang guru mendengarkan ketika ia mencoba berbicara.

Cara seorang guru memperlakukannya ketika seluruh dunia seolah mengatakan bahwa ia tidak akan pernah menjadi siapa-siapa.

Ironisnya, sekolah sering kali begitu sibuk mengukur apa yang diketahui murid, tetapi lupa menanyakan bagaimana perasaan murid selama belajar. Kita membuat begitu banyak instrumen penilaian untuk mengukur kemampuan berpikir, tetapi hampir tidak memiliki alat untuk mengukur apakah seorang anak pulang dengan hati yang lebih utuh atau justru dengan kepercayaan diri yang runtuh.

Padahal, pendidikan tidak pernah dimulai dari buku. Pendidikan dimulai dari perjumpaan antarmanusia. Sejak pertama kali memasuki ruang kelas, seorang anak sebenarnya sedang membaca gurunya jauh sebelum ia membaca buku pelajaran. Ia membaca wajah yang ramah atau wajah yang menghakimi. Ia membaca nada suara yang menenangkan atau yang menakutkan. Ia membaca apakah dirinya diterima sebagai manusia atau hanya diperlakukan sebagai nomor absen.

Setiap anak memiliki kemampuan yang luar biasa untuk mengenali ketulusan. Mereka mungkin belum memahami teori psikologi, tetapi hati mereka mampu membedakan mana senyum yang lahir dari kasih sayang dan mana senyum yang sekadar bagian dari rutinitas.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel