Membaca Manusia dari Halaman yang Belum Selesai

Oleh: Aji Priyo Utomo★

infopertama.com – Di sebuah perpustakaan , saya pernah memperhatikan seorang anak mengambil sebuah buku yang tebal. Ia membukanya secara acak, membaca satu halaman, lalu mengembalikannya ke rak.

“Mungkin bukunya tidak bagus,” gumamnya.

Saya tersenyum. Bukan karena buku itu benar-benar bagus atau buruk, melainkan karena saya sadar: ia baru saja melakukan sesuatu yang sering kita lakukan terhadap manusia. Kita membaca satu halaman, lalu merasa telah memahami seluruh isi buku.

Socrates pernah mengingatkan bahwa awal dari kebijaksanaan adalah kesadaran akan batas pengetahuan kita. Barangkali karena itulah ia lebih banyak bertanya daripada menjawab.

Baginya, pertanyaan bukan sekadar jalan menuju jawaban, melainkan cara menjaga manusia agar tidak tergesa-gesa merasa tahu. Maka izinkan saya meminjam satu pertanyaannya.

Bagaimana mungkin kita merasa mengenal seseorang, jika yang kita baca hanyalah satu halaman yang kebetulan terbuka?

Bukankah sebuah buku tidak pernah meminta kita menyimpulkannya dari pengantar? Bukankah sebuah perjalanan tidak pernah selesai hanya karena kita berhenti di satu persimpangan? Lalu mengapa terhadap manusia kita begitu murah hati membagikan kesimpulan?

Zaman ini bergerak terlalu cepat. Lebih cepat daripada kemampuan kita memahami. Media sosial hanya memperlihatkan potongan-potongan kehidupan. Sebuah foto, beberapa detik video, sebaris kalimat, lalu lahirlah penilaian. Seolah-olah kehidupan seseorang dapat diringkas menjadi satu unggahan.

Padahal hidup tidak pernah bekerja seperti layar telepon genggam. Ia lebih menyerupai naskah panjang yang ditulis oleh waktu. Ada halaman yang basah oleh air mata, tetapi tak pernah dipublikasikan. Ada bab tentang kegagalan yang sengaja disembunyikan karena dunia hanya menyukai keberhasilan.

Ada lembar-lembar sunyi yang justru paling banyak mengajarkan arti bertahan. Namun halaman-halaman itulah yang jarang dibaca. Orang Jawa memiliki satu laku yang indah: ngudi kawruh, mencari pengetahuan dengan kerendahan hati. Mencari, bukan mengklaim telah memiliki. Sebab dalam kebudayaan Jawa, ilmu bukan sekadar apa yang diketahui, melainkan bagaimana seseorang menempatkan dirinya di hadapan kenyataan.

“Ngelmu iku kalakone kanthi laku.”

Ilmu hanya akan menjadi kebijaksanaan apabila ditempuh melalui perjalanan. Bukan melalui prasangka. Mungkin itulah yang kini mulai hilang. Kita lebih senang mengumpulkan kesimpulan daripada mengumpulkan pemahaman.

Padahal kesimpulan yang lahir terlalu dini sering kali hanyalah prasangka yang diberi nama lain.

Saya teringat pada seorang petani yang sedang memanen padi. Ia tidak pernah menilai bulir dari ujung daunnya. Ia menunggu musim selesai, menunggu bulir menguning, menunggu waktunya tiba. Sebab ia tahu, tanaman yang hari ini tampak lemah belum tentu gagal. Barangkali ia hanya sedang bertumbuh dengan caranya sendiri.

Alam rupanya jauh lebih sabar daripada manusia. Kita justru sering menjadi hakim sebelum sempat menjadi saksi. Kita lebih cepat berbicara daripada memahami.

Lebih mudah memberi label daripada mendengarkan cerita. Barangkali karena memahami membutuhkan kesabaran, sedangkan menghakimi hanya memerlukan beberapa detik.

Bukankah sungai selalu tampak tenang di permukaan, sementara arus terkuat justru mengalir di dasarnya? Begitu pula manusia. Yang terlihat hanyalah wajahnya. Yang tak terlihat adalah pergulatan yang membuat wajah itu tetap mampu tersenyum. Yang terdengar hanyalah ucapannya. Yang tak terdengar adalah doa-doa yang ia bisikkan ketika tak seorang pun mendengarnya. Yang dinilai hanyalah langkahnya hari ini. Yang dilupakan adalah jalan panjang yang telah ia tempuh untuk sampai di sana.

Maka, apakah adil jika satu peristiwa dijadikan ukuran bagi seluruh kehidupannya? Socrates tidak pernah meminta murid-muridnya menghafal jawaban. Ia mengajarkan mereka mencintai pertanyaan. Mungkin karena pertanyaan membuat manusia tetap rendah hati. Sedangkan jawaban yang terlalu cepat sering kali melahirkan kesombongan.

Barangkali pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Siapa dia?”

Melainkan, “Sudah sejauh mana aku benar-benar mengenalnya?”

Karena semakin dalam seseorang memahami manusia, semakin ia sadar bahwa tidak ada kehidupan yang sesederhana kabar yang beredar.

Tidak ada jiwa yang dapat diringkas menjadi gosip. Tidak ada perjalanan yang selesai hanya karena satu bab telah dibaca. Pada akhirnya, setiap manusia adalah buku yang masih terus ditulis. Ada halaman yang telah selesai. Ada halaman yang sedang diperbaiki. Ada pula halaman-halaman yang bahkan belum sempat dibaca oleh pemiliknya sendiri.

Karena itu, jika suatu hari engkau bertemu seseorang, jangan tergesa-gesa menyimpulkan siapa dirinya hanya dari halaman yang kebetulan terbuka.

Sebab bisa jadi, halaman yang kaubaca bukanlah bab yang menjelaskan siapa ia sebenarnya. Ia hanyalah selembar kertas yang sedang dilewati oleh waktu.

Dan sebagaimana pesan Socrates yang tetap relevan melampaui zaman, kebijaksanaan bukanlah keberanian untuk segera berkata, “Aku sudah tahu.”

Kebijaksanaan adalah kerendahan hati untuk mengakui, “Barangkali masih banyak halaman yang belum kubaca.”

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel