Baterai Saja Perlu Diisi Ulang, Mengapa Kita Memaksa Diri Selalu Kuat?

Oleh: Bahtiar★

infopertama.com – Apa yang terjadi ketika baterai ponsel tersisa 5 persen, tetapi kita terus memaksanya untuk menjalankan berbagai aplikasi berat?

Awalnya, ponsel itu mungkin masih bertahan: layar tetap menyala, pesan masih bisa terbaca, dan panggilan telepon masih dapat dilakukan. Namun seiring waktu, kinerjanya mulai melambat. Jika terus dipaksa tanpa diisi daya, ponsel itu akhirnya mati total—sering kali justru pada momen krusial saat kita paling membutuhkannya.

Anehnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali memperlakukan diri sendiri dengan cara yang persis sama.

Saat tubuh kelelahan, kita memaksa diri untuk terus bekerja. Saat pikiran terasa sangat terbebani, kita terus mengunyah masalah tanpa jeda. Ketika hati terluka, kita memilih memendam kesedihan dan bersikeras berucap, “Saya baik-baik saja.” Seolah-olah mengakui rasa lelah adalah sebuah bentuk kelemahan, padahal itu merupakan bagian yang sangat alami dari pengalaman manusia.

Kita hidup dalam lingkungan budaya yang kerap mengagungkan sosok “kuat”. Mereka yang tetap tersenyum di tengah badai dianggap tangguh; mereka yang bekerja tanpa mengeluh dipuji sebagai pejuang; dan mereka yang sanggup menangani segudang tugas sekaligus dinilai luar biasa.

Tidak ada yang salah dengan mengagumi ketangguhan. Namun, masalah besar muncul ketika kita mendefinisikan “menjadi kuat” sebagai kewajiban untuk selalu mampu melakukan segalanya setiap saat, tanpa jeda. Padahal, menjadi kuat tidak berarti tak pernah lelah. Menjadi kuat justru berarti memiliki keberanian dan kesadaran untuk mengenali kapan saatnya harus berhenti dan beristirahat.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel