Baterai Saja Perlu Diisi Ulang, Mengapa Kita Memaksa Diri Selalu Kuat?

Bertahan berarti tetap melangkah maju dengan tetap menyadari dan menghormati batasan diri. Sebaliknya, memaksakan diri secara berlebihan berarti terus menerobos keadaan, bahkan ketika tubuh dan pikiran sudah berulang kali mengirim sinyal darurat untuk berhenti.

Meski sekilas mirip, dampak dari keduanya sangat jauh berbeda. Bayangkan sebuah kendaraan yang terus dipacu tanpa pernah diservis. Kendaraan itu mungkin masih bisa berjalan, tetapi masalah kecil dapat dengan cepat berkembang menjadi kerusakan mesin yang parah.

Hal yang sama berlaku bagi manusia. Kelelahan yang terus diabaikan dapat mengikis konsentrasi, merusak kesabaran, memicu konflik dalam hubungan, serta menurunkan kualitas pekerjaan. Kita mungkin hadir secara fisik di kantor, ruang kelas, atau di rumah, tetapi jiwa dan pikiran kita sejatinya berada di tempat lain.

Studi Fu dkk. (2026) pada tenaga kesehatan menunjukkan bahwa beban kerja yang berlebihan berbanding lurus dengan kelelahan akibat empati (empathy-based fatigue) dan kecenderungan untuk tetap bekerja saat kondisi diri tidak optimal (presenteeism). Di sinilah sikap welas asih terhadap diri sendiri (self-compassion) berperan sebagai pelindung. Memperlakukan diri sendiri dengan pengertian bukanlah bentuk memanjakan diri, melainkan modal krusial agar kita bisa terus menjaga kapasitas dalam mengemban tanggung jawab.

Lantas, mengapa kita begitu sering memaksakan diri untuk selalu tampak kuat?

Salah satu pemicu utamanya adalah rasa bersalah yang kerap muncul saat kita beristirahat. Ada ketakutan terselubung bahwa kita akan dinilai malas, tidak produktif, atau tertinggal dari orang lain. Media sosial pun turut memperparah hal ini dengan menyuguhkan cuplikan momen-momen terbaik orang lain. Kita melihat pencapaian mereka, tetapi jarang melihat perjuangan, kelelahan, atau waktu istirahat yang mereka butuhkan di balik layar.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel