Baterai Saja Perlu Diisi Ulang, Mengapa Kita Memaksa Diri Selalu Kuat?

Tentu tantangannya tidak sederhana. Realitas hidup tidak selalu memberi kita kemewahan untuk bisa berhenti sejenak. Ada pekerjaan yang dituntut selesai tepat waktu, keluarga yang butuh diurus, murid yang harus dibimbing, serta tumpukan tanggung jawab lain yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan.

Seorang dosen mungkin tetap berdiri mengajar meski pikirannya sudah amat terbebani. Seorang ibu terus memenuhi kebutuhan rumah tangga meski fisiknya sudah sangat letih. Seorang pelajar terus memaksakan diri mengerjakan tugas karena takut tertinggal dari teman-temannya. Dari luar, mereka tampak baik-baik saja. Namun, siapa yang tahu seberapa besar energi yang terkuras hanya untuk mempertahankan penampilan “tampak kuat” tersebut?

Penelitian di bidang pemulihan psikologis menunjukkan bahwa kemampuan untuk melangkah mundur sejenak dari tuntutan pekerjaan—meski hanya dalam durasi singkat—dan memberi ruang untuk bersantai, sangat menentukan kapasitas seseorang dalam menghadapi tekanan.

Notebaert dkk. (2025) menemukan bahwa pengalaman pemulihan seperti bersantai dan melepaskan diri secara mental dari pekerjaan (psychological detachment) berkaitan erat dengan ketahanan seseorang terhadap kelelahan emosional. Temuan ini menegaskan bahwa ketangguhan tidak hanya dibentuk dari cara kita menghadapi kesulitan, tetapi juga dari sejauh mana kita memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk memulihkan energi.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membedakan antara bertahan dan memaksakan diri secara berlebihan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel