Jendela Peradaban Ketika Zaman Menjadi Guru

Ibnu Khaldun pernah menyampaikan sebuah kalimat yang terasa semakin relevan: “Barangsiapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman.”

Kalimat itu mengandung peringatan yang dalam. Pertanyaannya bukan apakah anak-anak akan dididik oleh zaman—mereka pasti akan. Pertanyaannya adalah: siapa yang akan menjadi guru mereka ketika zaman mengambil alih ruang pendidikan?

Jika keluarga tidak memberikan teladan, media sosial akan menawarkan teladan. Jika sekolah tidak mengajarkan cara berpikir, algoritma akan menentukan apa yang harus mereka lihat. Jika masyarakat tidak memberikan nilai, pasar akan menawarkan nilai yang harus mereka kejar.

Tujuan Akhir Pendidikan

Persoalan pendidikan masa depan bukan semata-mata apakah anak mampu menggunakan teknologi. Persoalan yang lebih penting adalah apakah anak masih mampu mengatakan “tidak” ketika teknologi, pasar, kelompok, atau mayoritas mengarahkannya kepada sesuatu yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

Sekolah, dengan demikian, harus menjadi jendela peradaban. Jendela yang memungkinkan anak melihat dunia tanpa kehilangan dirinya; jendela yang membuat pengetahuan bertemu dengan nilai; dan jendela yang mempertemukan teknologi dengan kebijaksanaan.

Sebab kita sedang memasuki zaman ketika mesin semakin pintar. Justru karena itu, manusia harus semakin beradab. Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya mampu menjawab, melainkan generasi yang tahu pertanyaan mana yang layak diajukan.

Sekolah boleh berubah, teknologi boleh berubah, kurikulum boleh berubah, dan zaman akan terus berubah. Tetapi satu hal tidak boleh kehilangan tempatnya: manusia tetap harus menjadi tujuan pendidikan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel