infopertama.com – Pendidikan dasar acap kali disebut sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia. Seperti halnya membangun sebuah gedung, kekuatan struktur di atas sangat bergantung pada kekokohan tapak di paling bawah. Namun, realitas lapangan di Indonesia menunjukkan indikasi kuat bahwa pendidikan dasar kita masih “belum mendasar”—belum menyentuh esensi paling mendalam dari proses belajar itu sendiri.
1. Keterampilan Literasi dan Numerasi yang Masih Dangkal
Salah satu indikator utama belum mendasarnya pendidikan tingkat awal adalah capaian literasi dan numerasi siswa. Banyak anak di tingkat sekolah dasar telah mampu membaca kata secara mekanis, tetapi gagal memahami makna di balik kalimat tersebut (functional illiteracy).
Hal senada terjadi pada numerasi; matematika sering kali diajarkan sebagai hafalan rumus, bukan sebagai alat penalaran logis untuk memecahkan masalah sehari-hari. Ketika pondasi penalaran ini lemah, siswa akan mengalami kesulitan beruntun saat melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
2. Realitas Sarana: Mayoritas Ruang Kelas Tidak dalam Kondisi Baik
Kualitas proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kelayakan lingkungan belajar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan gambaran memprihatinkan mengenai kondisi fisik ruang kelas Sekolah Dasar (SD) di Indonesia:
| Persentase | Kondisi Ruang Kelas SD | Status Kelayakan |
| 39,68% | Kondisi Baik | Layak dan Aman Digunakan |
| 27,22% | Rusak Ringan | Membutuhkan Pemeliharaan |
| 22,27% | Rusak Sedang | Membutuhkan Perbaikan Berkala |
| 10,81% | Rusak Berat | Tidak layak dan berisiko membahayakan |
Dari sekitar 1,18 juta ruang kelas SD di Indonesia, kurang dari 40% yang berada dalam kondisi baik. Artinya, sekitar 6 dari 10 ruang kelas mengalami kerusakan dengan tingkatan berbeda, dan 1 dari 10 kelas masuk kategori rusak berat. Proporsi kerusakan di jenjang SD ini tercatat merupakan yang tertinggi dibandingkan jenjang SMP maupun SMA/SMK.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











