3. Ketimpangan Fasilitas dan Kualitas Pengajar
Data di atas mempertegas adanya disparitas yang signifikan, terutama antara wilayah perkotaan dan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Di beberapa daerah seperti Sulawesi Barat, persentase kelas SD rusak berat bahkan melampaui 20%.
Ketiadaan fasilitas fisik yang aman, ditambah ketimpangan distribusi guru yang terkualifikasi, membuat esensi “pendidikan untuk semua” belum sepenuhnya menyentuh akar rumput secara merata.
4. Kurikulum yang Terlalu Padat dan Berfokus pada Hafalan
Orientasi pembelajaran yang masih terbebani oleh target administratif dan materi yang terlalu luas membuat guru berkejaran dengan waktu. Alih-alih memastikan setiap anak paham betul satu konsep dasar sebelum berpindah ke konsep berikutnya, proses belajar-mengajar sering kali terburu-buru.
Akibatnya, pendidikan dasar kehilangan karakter dasarnya: membangun rasa ingin tahu (curiosity), pemikiran kritis (critical thinking), dan karakter pembelajar sepanjang hayat.
Langkah Pembenahan
Untuk menjadikan pendidikan dasar benar-benar “mendasar”, diperlukan pergeseran paradigma serta prioritas anggaran:
1. Revitalisasi Fisik Berbasis Skala Prioritas: Mempercepat perbaikan fasilitas belajar, terutama bagi 10,81% ruang kelas yang rusak berat, agar tercipta ruang belajar yang aman dan layak.
2. Fokus pada Foundational Learning: Prioritaskan penguasaan literasi dasar, numerasi, dan pendidikan karakter sosial-emosional di kelas-kelas awal melebihi target hafalan materi yang tebal.
3. Penguatan Kapasitas dan Distribusi Guru: Tingkatkan kualitas, pemerataan, dan kesejahteraan guru sekolah dasar sebagai garda terdepan pembentuk karakter anak.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











