Mengatur Layar, Menjaga Martabat

Oleh : Aji Priyo Utomo★

Kita menikmati kehangatan karena kita pernah kedinginan. Kita menghargai cahaya karena kita pernah berada dalam kegelapan. Maka begitu pula, kita dapat bergembira karena kita pernah merasakan kesedihan.” — David L. Weatherford

infopertama.com – Ada kalanya hidup mengambil sesuatu yang kita anggap paling berharga. Pada saat itu, manusia sering kali merasa seolah dunia sedang runtuh di hadapannya. Padahal, kehidupan tidak pernah benar-benar merampas. Ia hanya sedang memindahkan kita dari satu musim ke musim yang lain.

Pohon yang menggugurkan daunnya bukan sedang mati. Ia sedang menyiapkan kehidupan yang baru. Mata air yang menghilang di permukaan belum tentu kering. Mungkin ia sedang mencari jalan lain agar tetap dapat mengalir dan memberi kehidupan. Demikian pula manusia. Tidak setiap kehilangan adalah akhir. Ada kehilangan yang justru sedang mengantarkan kita pada pertemuan yang lebih bermakna.

Karena itu, saya tidak pernah percaya bahwa kesedihan harus dirayakan terlalu lama. Air mata memang manusiawi, tetapi menjadikannya tempat tinggal adalah cara paling halus untuk mengingkari harapan. Apa yang hilang hari ini, kelak akan kembali dalam bentuk yang mungkin tidak pernah kita bayangkan. Sebab Tuhan tidak selalu mengganti sesuatu dengan yang sama, tetapi sering kali dengan sesuatu yang lebih kita butuhkan.

Di tengah segala perubahan itu, saya memilih tetap berdiri pada prinsip yang saya yakini. Bagi saya, prinsip bukan sekadar kalimat yang indah untuk diucapkan, melainkan jalan sunyi yang harus dijalani, meskipun terkadang membuat kita berjalan sendirian.

Harga diri bukanlah kesombongan. Ia adalah kesetiaan manusia kepada suara hatinya. Ketika harga diri ditukar dengan kenyamanan, jabatan, atau pujian, sesungguhnya yang hilang bukan sekadar kehormatan, melainkan kemanusiaan itu sendiri. Manusia tanpa prinsip mungkin tetap terlihat hidup, tetapi ia hanya sedang memainkan peran. Ia menjadi makhluk yang cerdas, tetapi kehilangan cahaya yang membuatnya layak disebut manusia dalam makna spiritual.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel