Barangkali itulah sebabnya kehidupan tidak pernah bertanya seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa teguh kita berpijak. Tidak bertanya berapa banyak orang yang mengenal nama kita, melainkan berapa banyak hati yang menjadi lebih kuat karena kehadiran kita.
Pada akhirnya, manusia tidak diukur dari seberapa tenang laut yang ia arungi, tetapi dari keberaniannya menjaga layar ketika badai datang. Sebab ombak akan selalu ada, angin akan selalu berubah arah, dan pelabuhan yang nyaman tidak akan pernah mengajarkan arti sebuah pelayaran.
Maka, selama prinsip masih menjadi kompas, harga diri tetap menjadi jangkar, dan Tuhan tetap menjadi tujuan, saya percaya tidak ada perjalanan yang benar-benar tersesat. Yang ada hanyalah manusia yang berhenti percaya bahwa setiap badai pada akhirnya akan mengantarkannya menuju pantai yang baru.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











