Oleh: Aji Priyo Utomo
infopertama.com – Salah satu keyakinan yang paling jarang dipertanyakan dalam dunia pendidikan adalah anggapan bahwa tugas utama guru adalah membuat murid menjadi pintar.
Keyakinan ini terdengar wajar, bahkan seolah menjadi kebenaran yang tidak perlu diperdebatkan. Namun jika direnungkan lebih jauh, benarkah seorang guru memiliki kuasa untuk membuat seseorang menjadi pintar?
Pertanyaan tersebut penting diajukan di tengah budaya pendidikan yang semakin terobsesi pada hasil. Nilai ujian, peringkat kelas, angka kelulusan, hingga prestasi akademik sering dijadikan ukuran utama keberhasilan pendidikan.
Dalam logika semacam ini, guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga dianggap bertanggung jawab atas seluruh capaian murid. Ketika murid berprestasi, guru dipuji. Ketika murid gagal, guru kerap menjadi pihak pertama yang disalahkan.
Di balik cara pandang tersebut tersimpan asumsi bahwa kepintaran adalah sesuatu yang dapat diproduksi, sementara guru diposisikan sebagai pihak yang bertugas menghasilkan produk itu. Pendidikan kemudian dipahami seperti proses manufaktur yaitu ada bahan baku, ada proses pengolahan, lalu ada hasil akhir yang dapat diukur dan dievaluasi.
Persoalannya, manusia bukanlah produk pabrik.
Seorang guru dapat menjelaskan pelajaran dengan baik. Ia dapat menyiapkan metode yang menarik, memberikan bimbingan, mendampingi proses belajar, bahkan mengorbankan waktu dan tenaga demi siswanya, Namun pada akhirnya, yang dihadapinya bukan benda mati yang dapat dibentuk sepenuhnya sesuai kehendaknya. Yang dihadapinya adalah manusia dengan latar belakang, pengalaman hidup, minat, karakter, dan kemampuan yang berbeda.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











