Mengatur Layar, Menjaga Martabat

Saya teringat pada sebuah perahu yang bersandar terlalu lama di dermaga. Catnya mungkin tetap mengilap. Kayunya mungkin tidak pernah lapuk diterpa ombak. Namun, dapatkah ia disebut perahu jika seumur hidupnya hanya menjadi penghias pelabuhan?

Bukankah hakikat perahu adalah berlayar?

Begitu pula manusia. Kita tidak dilahirkan untuk sekadar merasa aman, melainkan untuk mengarungi samudra kehidupan dengan segala badai dan ketidakpastiannya. Kita memang tidak dapat mengatur arah angin. Sejak dahulu angin hanya tunduk kepada Sang Pencipta. Akan tetapi, layar selalu menunggu tangan yang berani mengembangkannya. Di situlah kebebasan manusia menemukan maknanya: bukan mengendalikan keadaan, melainkan menentukan sikap terhadap keadaan.

Saya sering melihat orang menghabiskan hidupnya menyalahkan angin. Padahal, pelaut yang baik tidak pernah bertanya mengapa badai datang. Ia hanya bertanya, ke mana layar harus diarahkan agar perahunya tetap sampai di tujuan.

Dalam dunia kepemimpinan ada sebuah ungkapan yang sederhana, they do what they say they will do. Seorang pemimpin dipercaya bukan karena kefasihan lidahnya, melainkan karena kesetiaan antara kata dan perbuatannya.

Namun sesungguhnya, kepemimpinan tidak selalu lahir dari sebuah jabatan. Seorang guru sedang memimpin masa depan muridnya. Seorang ayah sedang memimpin keluarganya. Seorang ibu sedang memimpin lahirnya generasi. Bahkan setiap manusia sedang memimpin dirinya sendiri. Sebab setiap pilihan yang kita ambil akan menjadi jejak yang diikuti, disadari ataupun tidak, oleh orang lain.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel