Membuka Jendela, Menjaga Akar
Namun, ada persoalan lain yang tidak kalah penting: membuka jendela kepada dunia tidak berarti membiarkan anak kehilangan rumah.
Globalisasi membuat batas kebudayaan semakin tipis. Anak-anak kita dapat mengenal budaya dari berbagai belahan dunia melalui layar. Mereka dapat berbicara dengan siapa saja, mengikuti tren global, dan menyerap berbagai cara berpikir. Ini adalah peluang besar, tetapi keterbukaan juga memiliki risiko.
Seseorang yang mengenal terlalu banyak dunia tetapi tidak mengenal dirinya sendiri dapat menjadi manusia yang mudah berpindah identitas. Ia tahu apa yang sedang tren, tetapi tidak tahu apa yang layak dipertahankan. Ia mengenal banyak bahasa, tetapi kehilangan bahasa kebudayaannya sendiri.
Karena itu, pendidikan harus melakukan dua pekerjaan sekaligus: membuka jendela dan menjaga akar. Jendela membuat kita melihat dunia, sedangkan akar membuat kita tidak mudah tumbang.
Tradisi bukan berarti menolak perubahan; tradisi adalah kemampuan sebuah masyarakat membawa nilai yang masih hidup dari masa lalu untuk menjawab persoalan masa depan. Anak-anak perlu mengenal teknologi, tetapi juga perlu mengenal etika. Mereka perlu menguasai bahasa global, tetapi tidak kehilangan bahasa ibunya.
Menemukan Bentuk Terbaik Manusia
Hamka pernah mengingatkan bahwa pendidikan hendaknya berikhtiar melahirkan bakat, bukan membenamkan manusia ke dalam pendidikan yang didasarkan pada paksaan. Gagasan ini terasa semakin relevan ketika pendidikan berhadapan dengan dunia yang sangat beragam.
Tidak semua anak tumbuh dengan bakat yang sama, dan tidak semua kecerdasan muncul dalam bentuk nilai ujian. Tugas pendidikan bukan mencetak semua anak menjadi bentuk manusia yang sama, melainkan membantu setiap anak menemukan bentuk terbaik dari dirinya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











