Jendela Peradaban Ketika Zaman Menjadi Guru

AI dapat membantu seseorang memperoleh informasi, tetapi informasi tidak otomatis menjadi kebijaksanaan. Mesin dapat menyusun kalimat tentang kasih sayang, tetapi ia tidak mengalami kehilangan; dapat menjelaskan tentang penderitaan, tetapi ia tidak merasakan air mata; dan mampu menghasilkan puisi tentang kematian, tetapi ia tidak pernah berdiri di sisi ranjang orang yang dicintainya pada saat ajal tiba.

Di situlah pendidikan manusia memiliki wilayah yang tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada teknologi.

Guru Bukan Sekadar Mesin Pencari

Sekolah harus mengajarkan anak bukan hanya cara mengetahui, tetapi juga cara menilai apa yang diketahui. Bukan hanya cara menggunakan teknologi, tetapi juga kapan teknologi harus digunakan dan kapan manusia harus mengambil keputusan dengan nuraninya.

Because of that, guru tidak sedang berkompetisi dengan kecerdasan buatan dalam perlombaan memberikan informasi. Guru tidak perlu menjadi mesin pencari yang paling cepat, sebab guru memiliki pekerjaan yang jauh lebih tua sekaligus lebih penting: membantu manusia menjadi manusia.

Seorang guru berhadapan dengan anak yang sedang mencari arah hidup. Di dalam diri seorang siswa mungkin terdapat kecemasan yang tidak terlihat dalam nilai rapornya, ada bakat yang belum ditemukan, ada persoalan keluarga yang tidak pernah diceritakan, dan ada mimpi yang bahkan belum mampu ia ucapkan.

Siswa bukan sekadar angka. Ia adalah manusia. Pendidikan yang melupakan manusia akan mudah terjebak menjadi sekadar administrasi. Guru bukan hanya profesi, melainkan representasi dari tanggung jawab peradaban.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel