Ia dapat menghafal definisi tanggung jawab, tetapi belum tentu bertanggung jawab; dapat menjelaskan toleransi dalam ujian, tetapi belum tentu mampu menghormati orang yang berbeda dengannya.
Nilai tidak tumbuh melalui hafalan, melainkan melalui pengalaman yang berulang. Seorang anak belajar disiplin karena ia hidup dalam lingkungan yang menghargai waktu. Ia belajar tanggung jawab karena dipercaya mengerjakan sesuatu. Ia belajar menghormati manusia karena diperlakukan sebagai manusia.
Dengan demikian, pendidikan karakter tidak mungkin dibebankan hanya kepada guru. Ia membutuhkan keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan kebudayaan tempat anak itu tumbuh.
Tantangan Era Digital dan Kecerdasan Buatan
Persoalannya, dunia yang dihadapi anak hari ini jauh berbeda dari dahulu ketika sekolah berhadapan terutama dengan buku, televisi, lingkungan sosial, dan media massa konvensional. Hari ini sekolah berhadapan dengan dunia digital yang tidak pernah tidur.
Sebuah telepon genggam dapat membuka ribuan buku sekaligus. Mesin pencari dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan bahkan dapat menulis, menerjemahkan, merangkum, menghitung, membuat gambar, dan membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan intelektual.
Pengetahuan tidak lagi berdiam di perpustakaan, melainkan berada di dalam genggaman. Dalam keadaan seperti ini, sekolah harus bertanya kembali kepada dirinya sendiri: “Jika mesin dapat memberikan jawaban dengan lebih cepat, untuk apa manusia belajar?”
Pertanyaan ini bukan ancaman bagi sekolah, melainkan kesempatan untuk menemukan kembali makna pendidikan. Sebab semakin canggih teknologi memberikan jawaban, semakin penting manusia belajar mengajukan pertanyaan.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











