Antara Salah dan Tumbuh: Tentang Dua Makna Kepintaran

Salah dan Tumbuh
Siswa SMPN II Kota Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, Selasa, (23/4/2019) sedang mengerjakan soal Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNBkP). (KOMPAS.com/MARKUS MAKUR)

infopertama.com – Di ruang kelas, kepintaran sering kali hadir dalam bentuk angka. Ia tercetak rapi di atas kertas ujian, disahkan oleh tanda tangan guru, lalu dirayakan sebagai bukti keberhasilan. Anak yang tak pernah salah, yang jawabannya selalu tepat, yang langkahnya mengikuti pola tanpa cela dialah yang disebut pintar.

Sistem menyukai ketepatan. Kurikulum menyukai kepastian. Dan kesalahan, dalam ruang ini, adalah sesuatu yang harus ditekan serendah mungkin.

Hanya saja kehidupan bukan ruang kelas yang memiliki kunci jawaban di laci meja pengawas.

Di dalam kehidupan, tak ada lembar koreksi yang dibagikan esok hari. Tak ada remedial terjadwal. Tak ada kisi-kisi yang bisa ditebak. Justru di sanalah paradoks itu muncul: orang yang tak pernah membuat kesalahan sering kali bukan yang paling bijaksana, melainkan yang paling berhati-hati untuk tidak melangkah terlalu jauh.

Sebab hidup tidak meminta kita sekadar benar. Hidup meminta kita berani.

Kesalahan dalam kehidupan bukan sekadar penyimpangan dari aturan, melainkan bagian dari proses mengenali batas diri. Ia adalah cermin yang tak selalu ramah, tetapi jujur. Dari sanalah manusia belajar tentang konsekuensi, tentang tanggung jawab, tentang rendah hati. Tidak ada kedewasaan yang lahir dari sterilnya pengalaman.

Kita bisa lulus dengan nilai sempurna, tetapi tetap gagap ketika berhadapan dengan kegagalan pertama. Kita bisa hafal teori etika, tetapi goyah saat diuji oleh kepentingan. Kita bisa memahami rumus kesuksesan, tetapi rapuh ketika rencana runtuh.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel