Luka Sunyi di Jembatan Cangar: Ketika Rasa Sakit Tak Menemukan Bahasa

Jembatan Cangar
Jembatan Cangar, Mojokerto-Jawa Timur sering kali menjadi lokasi orang bunuh diri. (Foto: Ist)

Oleh: Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog★

infopertama.com – Tragedi yang berulang di kawasan Jembatan Cangar semestinya tidak lagi dibaca sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah tanda—bahwa di balik lanskap alam yang tenang, tersimpan dinamika psikologis yang jauh lebih kompleks.

Dalam waktu yang berdekatan, lebih dari satu nyawa melayang di lokasi yang sama.

Pola ini mengajak kita untuk beralih dari sekadar rasa duka menuju upaya memahami.

Selama ini, bunuh diri kerap dijelaskan melalui narasi sebab yang sederhana: tekanan ekonomi, konflik relasi, atau kegagalan personal. Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa keputusan tersebut hampir selalu lahir dari interaksi banyak faktor yang saling bertumpuk. Ia bukan sekadar respons terhadap satu masalah, melainkan akumulasi dari pengalaman batin yang tak tertangani.

Dalam kerangka Interpersonal Theory of Suicide, Thomas Joiner menjelaskan bahwa dorongan bunuh diri menguat ketika seseorang mengalami dua kondisi sekaligus: merasa tidak memiliki tempat (thwarted belongingness) dan merasa dirinya menjadi beban (perceived burdensomeness). Pada titik ini, hidup kehilangan jangkar sosialnya. Individu tidak hanya merasa sendiri, tetapi juga merasa kehadirannya tidak lagi bermakna bagi orang lain.

Temuan ini selaras dengan berbagai studi longitudinal yang menunjukkan bahwa rendahnya keterhubungan sosial merupakan prediktor kuat terhadap ide bunuh diri. Meta-analisis dalam jurnal Psychological Bulletin (2010) bahkan menempatkan isolasi sosial sebagai salah satu faktor risiko yang konsisten lintas budaya. Dalam konteks masyarakat yang semakin terfragmentasi—di mana interaksi sering kali bersifat superfisial—kerentanan ini menjadi semakin relevan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel