Tetap Produktif tapi Hati Lelah, Fenomena “Silent Burnout” Meningkat di Kalangan Pekerja

infopertama.com – Fenomena silent burnout atau kelelahan emosional yang terjadi secara diam-diam kini semakin banyak dialami masyarakat, khususnya kalangan pekerja dan generasi muda produktif.

Kondisi ini membuat seseorang terlihat tetap mampu bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi sebenarnya mengalami kelelahan mental yang mendalam.

Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog menilai, silent burnout menjadi salah satu persoalan kesehatan mental yang perlu mendapat perhatian karena sering kali tidak disadari, baik oleh individu yang mengalaminya maupun lingkungan sekitar.

Berbeda dengan burnout pada umumnya yang terlihat melalui penurunan performa atau ledakan emosi, silent burnout cenderung tersembunyi. Individu masih tampak “baik-baik saja”, tetap hadir bekerja, aktif berinteraksi, bahkan tetap produktif.

Namun di balik itu, mereka mulai kehilangan energi emosional, sulit menikmati pekerjaan, merasa kosong, hingga menjalani aktivitas hanya sekadar rutinitas.

“Banyak orang tetap terlihat kuat karena merasa harus bertahan. Padahal secara psikologis mereka sebenarnya sudah sangat lelah,” ujar Flora seorang psikolog industri dan organisasi kepada infopertama.com, Jumat.

Teori Burnout: Kelelahan Emosional yang Berkepanjangan

Fenomena silent burnout berkaitan dengan teori burnout yang pertama kali dikembangkan oleh psikolog Christina Maslach. Dalam teori tersebut, burnout dijelaskan sebagai kondisi kelelahan psikologis akibat stres kerja kronis yang berlangsung terus-menerus.

Maslach menjelaskan bahwa burnout terdiri dari tiga dimensi utama, yaitu: emotional exhaustion atau kelelahan emosional, depersonalization yaitu munculnya sikap sinis, menjauh, atau kehilangan keterhubungan emosional, serta reduced personal accomplishment, yaitu perasaan bahwa diri tidak lagi mampu bekerja secara optimal atau merasa pencapaiannya tidak bermakna.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel