Luka Sunyi di Jembatan Cangar: Ketika Rasa Sakit Tak Menemukan Bahasa

Jembatan Cangar
Jembatan Cangar, Mojokerto-Jawa Timur sering kali menjadi lokasi orang bunuh diri. (Foto: Ist)

Di sisi lain, Edwin Shneidman menawarkan konsep psychache, yaitu rasa sakit psikologis yang mendalam dan terasa tak tertahankan.

Menurutnya, bunuh diri bukanlah ekspresi keinginan untuk mati, melainkan upaya untuk menghentikan rasa sakit tersebut. Perspektif ini membantu kita melihat bahwa di balik tindakan ekstrem, terdapat pengalaman subjektif yang sering kali tidak terkomunikasikan.

Dalam kondisi psychache, individu kerap mengalami penyempitan cara berpikir atau cognitive constriction. Aaron T. Beck, melalui penelitiannya tentang depresi dan hopelessness, menemukan bahwa individu yang diliputi keputusasaan cenderung memandang masa depan secara biner: gelap atau tidak ada sama sekali. Kemungkinan alternatif tidak lagi terlihat. Dunia terasa buntu.

Di sinilah, keputusan yang dari luar tampak impulsif sebenarnya memiliki logika internal tersendiri. Ia lahir dari persepsi yang telah menyempit—bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena tekanan emosional yang melampaui kapasitas regulasi diri.

Fenomena di Cangar juga tidak dapat dilepaskan dari apa yang dalam literatur disebut sebagai Werther Effect, yakni kecenderungan meningkatnya kasus bunuh diri setelah paparan terhadap kejadian serupa.

Istilah ini berakar dari novel The Sorrows of Young Werther karya Johann Wolfgang von Goethe, yang pada abad ke-18 dikaitkan dengan gelombang bunuh diri di Eropa. Riset kontemporer—termasuk studi Phillips (1974) hingga temuan lebih mutakhir dalam The Lancet Psychiatry (2020)—menunjukkan bahwa peliputan media dan asosiasi tempat tertentu dapat memicu efek imitasi, terutama pada individu yang sudah berada dalam kondisi rentan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel