infopertama.com – Di dalam dunia pendidikan, sering kali yang terlihat adalah gedung, bengkel, laboratorium, ruang praktik, komputer, mesin, dan peralatan. Kita menyebutnya sarana dan prasarana. Kita menghitungnya sebagai aset. Kita melaporkannya sebagai inventaris.
Namun sesungguhnya, yang sedang kita kelola bukan sekadar benda.
Kita sedang mengelola cara berpikir. Tertib bukanlah urusan map dan arsip. Ia adalah sikap batin terhadap tanggung jawab. Ketika sebuah institusi memilih untuk tertib, ia sedang menyatakan bahwa setiap detail memiliki makna. Bahwa tidak ada yang terlalu kecil untuk diabaikan. Bahwa amanah tidak boleh diperlakukan secara serampangan.
Akuntabilitas pun bukan sekadar tanda tangan di atas laporan. Ia adalah keberanian moral untuk berkata:
“Apa yang kami kelola dapat diperiksa, dapat diuji, dan dapat dipertanggungjawabkan.”
Dalam akuntabilitas ada integritas. Dalam integritas ada martabat.
Dan standar bukanlah belenggu administratif. Standar adalah kesepakatan peradaban. Ia adalah ukuran bersama agar kualitas tidak jatuh pada selera, agar mutu tidak tergantung suasana, agar sistem tidak bergantung pada siapa yang sedang berkuasa.
Ketika pengelolaan sarana dan prasarana berjalan tanpa alur yang jelas, sesungguhnya yang hilang bukan hanya efisiensi, melainkan arah. Tanpa sistem, energi habis untuk memperbaiki kekacauan. Tanpa data yang sistematis, keputusan lahir dari asumsi. Dan asumsi yang terus-menerus dijadikan dasar kebijakan perlahan akan melemahkan kapasitas lembaga.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






