Manusia Berhasil Menaklukkan Alam, Tetapi Gagal Menaklukkan Kerakusannya Sendiri
Oleh: Aji Priyo Utomo*
infopertama.com – “Untuk apa modernitas, bila hati manusia kosong tanpa cinta?”
Pertanyaan itu terdengar seperti keluhan seorang penyair. Namun hari ini, ia terasa sebagai pertanyaan ekologis sekaligus politik. Sebab di tengah gegap gempita pembangunan, manusia justru semakin jauh dari alam yang menopang hidupnya sendiri.
Kita hidup di zaman ketika kemajuan diukur lewat jalan tol, kawasan industri, tambang, dan angka investasi. Hutan dipandang sebagai cadangan ekonomi yang menunggu dibuka. Sungai dianggap saluran sumber daya. Gunung diperlakukan seperti tubuh yang boleh dilubangi kapan saja selama menghasilkan keuntungan.
Di titik itulah modernitas sering kehilangan nuraninya. Papua memperlihatkan ironi itu dengan terang. Wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu bentang hutan hujan tropis terbesar di dunia perlahan berubah menjadi ruang eksploitasi. Hutan dibuka untuk perkebunan, tambang, jalan, dan proyek pangan skala besar. Pohon-pohon tua yang tumbuh jauh sebelum republik ini lahir tumbang dalam hitungan menit oleh mesin-mesin industri.
Bahasa pembangunan terdengar megah di ruang rapat yaitu hilirisasi, investasi, ketahanan pangan, bioenergi, percepatan ekonomi. Tetapi bagi masyarakat adat, pembangunan kerap hadir dalam bentuk lain, bagaimana tidak tanah yang hilang, sungai yang keruh, dan hutan yang tak lagi dapat diwariskan kepada anak-anak mereka.
Padahal bagi banyak komunitas adat di Papua, hutan bukan sekadar hamparan kayu. Hutan adalah ruang hidup, sumber makanan, pengetahuan, dan ingatan leluhur. Ketika hutan hilang, yang lenyap bukan hanya pohon, melainkan juga cara hidup manusia yang tumbuh bersama alamnya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







