Oleh: Aji Priyo Utomo★
infopertama.com – Dalam perjalanan belajar, kejenuhan sering dianggap sebagai penghalang. Ia dicurigai sebagai tanda melemahnya semangat, bahkan kegagalan menjaga konsistensi. Padahal, jika dibaca dengan lebih jernih, kejenuhan bisa menjadi bagian dari proses pendewasaan berpikir.
Ada saat ketika hidup berjalan seperti biasa saja. Hari-hari tertata, tetapi terasa datar. Aktivitas dijalani, namun kehilangan makna. Dalam situasi seperti ini, kejenuhan hadir tidak dengan gaduh, melainkan sebagai sunyi yang perlahan memenuhi ruang batin.
Di tengah zaman yang serba cepat, kejenuhan sering dilawan dengan distraksi. Gawai, hiburan, dan tuntutan untuk terus tampak produktif membuat kita jarang memberi ruang untuk berhenti. Kita lebih sibuk mengusir jenuh daripada memahami apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan.
Dalam perspektif Ki Hadjar Dewantara, pendidikan bukan sekadar proses mengisi pengetahuan, melainkan menuntun potensi kodrati manusia. Belajar adalah proses yang hidup dan hal tersebut tidak hanya melibatkan akal, tetapi juga rasa dan kesadaran diri.
Dalam tradisi Islam, hal ini sejalan dengan pentingnya tafakkur (merenung) dan tazakkur (mengingat). Kejenuhan, jika disikapi dengan tepat, dapat menjadi pintu masuk untuk keduanya. Ia mengajak kita berhenti sejenak, menata ulang niat, dan mengingat kembali tujuan belajar: bukan sekadar mengetahui, tetapi memahami dan mendekatkan diri pada kebenaran.
Ketika belajar hanya dikejar sebagai capaian angka dan formalitas, maka ruang refleksi menjadi sempit. Di sinilah kejenuhan sering muncul sebagai tanda bahwa ada yang terlewat yaitu hubungan antara ilmu dan makna.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







