infopertama.com – Orang-orang sering bilang, kalau ingin menemukan cahaya, jangan diam di dalam gelap. Kalimat itu terdengar seperti nasihat yang baik. Terlalu baik, malah. Seolah-olah hidup ini sesederhana menyalakan lampu di ruangan yang padam. Masalahnya, tidak semua orang tahu di mana saklar itu berada.
Ada yang sudah lama berdiri di kegelapan, bukan karena betah, tetapi karena tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk mengenal terang. Ketakutan, dalam keadaan seperti itu, bukan lagi sesuatu yang harus dilawan. Ia sudah menjadi bagian dari cara seseorang memahami dunia.
Kita kemudian mencari pembenaran ke alam. Kita bilang laut mengajari karang untuk tegar. Padahal laut tidak pernah berniat mengajar apa pun. Ia hanya bergelombang. Karang pun tidak pernah berniat belajar. Ia hanya tidak punya pilihan selain bertahan atau hancur.
Tetapi manusia selalu membutuhkan cerita. Maka kita ciptakan makna dari benturan itu, supaya hidup terasa lebih masuk akal. Pelangi juga begitu. Kita menyebutnya keindahan setelah hujan, tanda harapan, dan seterusnya.
Padahal pelangi tidak pernah benar-benar ada di satu tempat. Ia muncul karena sudut pandang. Coba bergeser sedikit, dan ia hilang. Namun kita tetap menyukainya. Mungkin karena kita butuh sesuatu yang tampak indah, meski kita tahu ia tidak bisa digenggam.
Tentang hidup, orang-orang juga suka bilang bahwa kita harus mendefinisikannya sendiri. Kedengarannya mandiri. Tetapi siapa di antara kita yang benar-benar bebas dari definisi orang lain? Bahasa yang kita pakai saja bukan milik kita sendiri. Ada yang menyelam ke laut untuk mencari mutiara. Ada yang naik gunung untuk melihat dunia dari atas. Mereka mengukur kedalaman dan ketinggian, seolah-olah hidup bisa dipahami dengan angka. Tetapi tidak ada yang bisa memastikan seberapa dalam hati seseorang. Bahkan orang itu sendiri sering tidak tahu.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







