Lalu kita berbicara tentang manfaat, tentang bagaimana hidup seharusnya berguna bagi orang lain. Ini juga terdengar baik. Terlalu baik. Karena kadang-kadang, keinginan untuk “berguna” tidak lebih dari keinginan untuk diakui. Pohon sering dijadikan contoh. Ia tetap memberi teduh, bahkan kepada orang yang akan menebangnya. Sebuah gambaran yang indah, hampir seperti dongeng moral. Tetapi pohon tidak pernah memilih. Ia tidak bisa menolak. Ia tidak tahu apa itu pengkhianatan. Manusia tahu, Itulah masalahnya.
Dengan akal dan perasaan, manusia tidak pernah sesederhana pohon. Setiap kebaikan bisa mengandung motif. Setiap ketulusan bisa disusupi kepentingan. Bahkan ketika seseorang berkata ia ingin hidup dengan makna, sering kali yang ia cari hanyalah cara agar hidupnya terasa penting.
Barangkali hidup memang tidak pernah benar-benar terang atau gelap. Ia lebih mirip ruang dengan cahaya yang tidak merata di beberapa sudut terlalu silau, di sudut lain terlalu redup. Kita berjalan diantaranya, menebak-nebak mana yang harus dipercaya.
Dan mungkin, pada akhirnya, bukan soal apakah kita berhasil menemukan cahaya atau tidak. Melainkan apakah kita cukup jujur untuk mengakui bahwa selama ini, kita juga sering menciptakan cahaya versi kita sendiri lalu mempercayainya, seolah-olah itu satu-satunya yang nyata.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







