Oleh : Aji Priyo Utomo
infopertama.com – Suatu hari ada yang bertanya bagaimana mungkin Ada yang sengaja mengenakan kebodohan sebagai topeng, agar manusia lain menyingkap wajah aslinya. Sebab di dunia ini, yang paling gemar mengadili sering kali bukan mereka yang paling mengerti, melainkan mereka yang paling takut pada kekosongan dirinya sendiri. Mereka membutuhkan orang lain yang tampak rendah agar dapat berdiri lebih tinggi. Mereka memerlukan sosok yang dianggap salah agar merasa dirinya benar.
Dalam filsafat eksistensial, manusia adalah makhluk yang dilempar ke dunia tanpa naskah, tanpa makna bawaan, tanpa jaminan kebenaran yang selesai. Namun, banyak orang gemetar menghadapi kebebasan itu. Mereka lari dari kecemasan eksistensial dengan menjadi hakim memberi label, menyusun vonis, menertibkan yang asing. Dengan menghakimi, mereka merasa dunia kembali pasti. Dengan merendahkan orang lain, mereka menunda perjumpaan dengan kehampaan dirinya sendiri.
Apakah dengan berpura-pura bodoh mampu memberikan gambaran jelas bagaimana betapa rapuh kebijaksanaan. Ada yang berbicara seolah mengetahui hakikat manusia, padahal mereka ketahui hanyalah prasangka. Saat mengakui bagaimana mencintai kebenaran, tetapi menolak segala hal yang mengguncang kenyamanan pikirannya. Ada yang melihat dengan mata, namun buta terhadap makna. Ada yang mendengar suara, namun tuli terhadap jeritan keberadaan.
Jean-Paul Sartre, seorang filsuf berkebangsaan Prancis yang hidup pada abad ke-20 pernah menunjukkan bahwa manusia kerap hidup dengan menipu diri sendiri agar tak perlu menanggung kebebasan. Ketika sebagian dari kita bersembunyi di balik setiap peran kehidupannya. Padahal semua itu sering hanya kostum agar tak perlu mengakui bahwa sama bingungnya dengan yang diadili. Mereka memakai gelar kebijaksanaan untuk menutupi ketakutan menjadi manusia biasa.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







