Cepat, Lugas dan Berimbang

Ruteng yang Berubah: Ketika Tanah Dijual, Masa Depan Dipertaruhkan

Oleh: Rikhardus Roden★

infopertama.com – Di tengah Gini ratio yang rendah, puluhan ribu warga Manggarai masih hidup dalam kemiskinan, sementara sawah, tanah, dan ruang belajar alami generasi perlahan menghilang.

Ruteng sejak lama dikenal sebagai kota yang sejuk—bukan hanya karena udaranya yang dingin di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, tetapi juga karena kehidupan sosialnya yang hangat dan bersahaja. Pegunungan seperti Ranaka dan Poco Likang menjaga keseimbangan alam, sementara sawah, kampung, dan kebersamaan warga membentuk identitas yang kuat.

Namun hari ini, kesejukan itu mulai terasa berbeda. Perubahan tidak hanya terlihat pada fisik kota, tetapi juga pada cara hidup dan relasi sosial warganya.

Pada dekade 1970-an, sawah terbentang luas—bukan sekadar sumber pangan, tetapi juga ruang sosial dan ruang belajar. Di sana, anak-anak tidak hanya bermain, tetapi belajar membaca alam. Seusai panen, mereka berkeliling sawah mencari tikus dengan sebatang kayu di tangan. Aktivitas sederhana ini melatih kecerdasan: mengenali lubang, membaca jejak, memahami pola gerak, dan bekerja sama.
Itu adalah sekolah tanpa ruang kelas.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN