Ruteng yang Berubah: Ketika Tanah Dijual, Masa Depan Dipertaruhkan

Tanah perlahan berpindah tangan.
Kampung yang dulu diisi warga lokal kini dipenuhi bangunan-bangunan besar yang banyak dimiliki oleh warga dari luar daerah. Warga menjual tanah bukan karena pilihan bebas, melainkan karena tekanan ekonomi—untuk memenuhi kebutuhan hidup, membayar utang, atau sekadar bertahan.

Berdasarkan data Bappenas tahun 2021, wilayah Manggarai menghadapi tekanan krisis iklim yang ditandai dengan menurunnya debit air dan meningkatnya kerentanan sektor pertanian.

Dalam kerangka perencanaan pembangunan nasional, kawasan ini termasuk wilayah yang diprioritaskan dalam penanganan dampak perubahan iklim, khususnya terkait ketahanan air dan produksi pangan.

Sementara itu, menurut data Badan Pusat Statistik (rilis terbaru sekitar 2025), sekitar 65 ribu penduduk Manggarai masih hidup dalam kemiskinan, sementara Gini Ratio berada di kisaran 0,29, yang tergolong rendah.

Sekilas, ini tampak sebagai kondisi yang baik. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Gini Ratio yang rendah tidak selalu berarti kesejahteraan tinggi. Dalam konteks Manggarai, angka tersebut menunjukkan bahwa pendapatan memang relatif merata, tetapi pada tingkat yang rendah. Jurang antara kaya dan miskin tidak terlalu lebar—bukan karena semua hidup layak, melainkan karena banyak yang berada dalam kondisi ekonomi yang hampir sama: terbatas.

Ini adalah pemerataan dalam kemiskinan.

Di beberapa sudut Ruteng, kondisi ini terlihat jelas. Rumah papan yang mulai keropos masih berdiri, dihuni oleh keluarga yang bertahan dengan segala keterbatasan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel