Di sisi lain, tembok-tembok tinggi mengelilingi rumah permanen milik mereka yang lebih mapan.
Pemandangan ini bukan sekadar kontras visual. Ia menunjukkan bagaimana ruang hidup perlahan terbelah—yang satu berjuang untuk bertahan, sementara yang lain memiliki ruang untuk berkembang.
Perubahan lanskap juga memengaruhi sistem pangan. Dahulu, sawah tidak hanya memenuhi kebutuhan pemilik, tetapi juga menopang keluarga luas. Kini, ketergantungan pada pasokan beras dari luar daerah semakin meningkat.
Petani yang masih bertahan menghadapi tantangan berat. Produktivitas menurun akibat keterbatasan air. Sebagian warga mulai beralih ke hortikultura.
Di satu sisi, langkah ini membuka peluang ekonomi. Namun di sisi lain, ia perlahan menggeser nilai—dari kebersamaan dodo dalam proses produksi menuju orientasi pasar yang lebih individual dan kompetitif.
Yang hilang bukan hanya sawah, tetapi juga nilai hidup.
Tekanan ekonomi kemudian merembet ke ranah sosial. Lapangan kerja yang terbatas membuat banyak anak muda kehilangan arah.
Dalam kehidupan sehari-hari, gejala ini terlihat nyata. Pada sejumlah pesta pernikahan, konflik kerap terjadi dengan pola yang berulang: anak-anak muda yang mabuk, emosi yang memuncak, dan perkelahian yang sulit dihindari.
Ini bukan sekadar persoalan perilaku.
Ia adalah gejala sosial—ketika energi generasi muda tidak tersalurkan secara sehat, sementara ruang ekspresi dan peluang hidup semakin sempit. Di balik perayaan, ada tekanan yang tidak terselesaikan.
Ketika ruang belajar alami hilang, tanah dijual, dan peluang terbatas, yang dipertaruhkan bukan hanya kondisi hari ini, tetapi masa depan generasi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






