Sementara itu, menurut data Badan Pusat Statistik (rilis terbaru sekitar 2025), sekitar 65 ribu penduduk Manggarai masih hidup dalam kemiskinan, sementara Gini Ratio berada di kisaran 0,29, yang tergolong rendah.
Sekilas, ini tampak sebagai kondisi yang baik. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.
Gini Ratio yang rendah tidak selalu berarti kesejahteraan tinggi. Dalam konteks Manggarai, angka tersebut menunjukkan bahwa pendapatan memang relatif merata, tetapi pada tingkat yang rendah. Jurang antara kaya dan miskin tidak terlalu lebar—bukan karena semua hidup layak, melainkan karena banyak yang berada dalam kondisi ekonomi yang hampir sama: terbatas.
Ini adalah pemerataan dalam kemiskinan.
Di beberapa sudut Ruteng, kondisi ini terlihat jelas. Rumah papan yang mulai keropos masih berdiri, dihuni oleh keluarga yang bertahan dengan segala keterbatasan.
Di sisi lain, tembok-tembok tinggi mengelilingi rumah permanen milik mereka yang lebih mapan.
Pemandangan ini bukan sekadar kontras visual. Ia menunjukkan bagaimana ruang hidup perlahan terbelah—yang satu berjuang untuk bertahan, sementara yang lain memiliki ruang untuk berkembang.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







