Maka kebodohan yang kita sandang justru lebih otentik daripada kebijaksanaan yang mereka pamerkan. Sebab secara sadar kita menyadari itu hanyalah topeng, sedangkan mereka mengira topengnya adalah wajah. Dan tragedi terbesar manusia bukan ketika ia bodoh, melainkan ketika ia merasa paling tahu lalu menutup pintu bagi kemungkinan benar yang lain.
Pada akhirnya, yang sungguh buta bukanlah ia yang tak melihat jalan, melainkan ia yang mengira telah sampai. Yang sungguh tuli bukanlah ia yang tak mendengar suara, melainkan ia yang menolak setiap kebenaran yang tak berasal dari dirinya. Di situlah eksistensi menjadi ironi, ketika manusia bebas mencari makna, tetapi lebih sering memilih menjadi penjara bagi sesamanya.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







