Ruang Ngopi dan Jiwa yang Belajar Ditentang; Dubium Metodicum

Ditentang
Ilustrasi Sebuah konsep, ide, gagasan ditempa hingga menghasilkan suatu yang matang untuk dieksekusi.

infopertama.com – Ada kalanya secangkir kopi lebih jujur daripada mimbar. Di sana, kata-kata tidak sedang berlomba menjadi benar. Ia hanya ingin dimengerti. Tetapi bukankah kebenaran sering kali lahir dari luka kecil yang bernama bantahan?

Pikiran yang tak pernah disentuh pertanyaan akan mengira dirinya sudah selesai. Ia seperti benih yang enggan pecah takut kehilangan bentuk, padahal justru di situlah kehidupan bermula.

Kemunduran tidak pernah benar-benar lahir dari ketiadaan ide. Ia lahir ketika ide-ide baru layu sebelum sempat berakar. Ketika gagasan dipatahkan bukan dengan argumentasi, melainkan dengan sikap apriori. Ketika keberanian berpikir dikerdilkan oleh kenyamanan yang terlalu lama dipeluk.

Sesekali, duduklah di meja kopiku. Atau biarkan aku menikmati juz buah wortel yang bisa menjernihkan penglihatan kesukaanmu. Sebab percakapan yang jujur sering kali tidak membutuhkan podium, hanya membutuhkan keberanian untuk tidak saling meninabobokan.

Mari kita bicara tentang hal yang paling mendasar dari eksistensialisme: keberanian untuk menjadi subjek yang berpikir. Bukan sekadar pengulang kalimat, bukan sekadar pewaris asumsi. Dalam tradisi filsafat, sebuah pikiran baru benar-benar disebut pikiran ketika ia siap diuji, ditentang, bahkan digugat. Tanpa perlawanan, pikiran hanya gema. Tanpa sanggahan, ia hanya asumsi yang nyaman.

Bukankah sebuah gagasan menemukan kedewasaannya justru saat ada yang menolaknya?

Karena itu, mungkin aku ingin menguji hipotesis pikiranmu bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memastikan: apakah itu sungguh pikiran, atau sekadar keyakinan yang belum pernah disentuh pertanyaan? Dalam dunia yang terlalu cepat sepakat, perbedaan adalah kemewahan intelektual.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel