Aku sepakat: adab merapikan bahasa kesopanan. Ia menjaga agar dialog tidak berubah menjadi caci. Namun pikiran pikiran yang otentik tidak membutuhkan sopan santun untuk hidup. Ia membutuhkan kejujuran. Ia membutuhkan keberanian. Ia membutuhkan ruang untuk salah dan ruang untuk dikoreksi.
Adab menjaga hubungan. Tetapi kritik menjaga kebenaran. Eksistensi manusia, kata para eksistensialis, bukan sekadar ada melainkan memilih. Memilih untuk berpikir, memilih untuk berbeda, memilih untuk tidak larut dalam arus mayoritas. Maka, ketika sebuah ruang diskusi hanya menyisakan persetujuan, di situlah kemunduran pelan-pelan disemai.
Ide yang tidak boleh dibantah akan berubah menjadi dogma. Dogma yang tak boleh disentuh akan berubah menjadi kekuasaan. Dan kekuasaan yang tak pernah diuji akan melahirkan stagnasi.Karena itu, mari kita duduk. Bukan untuk saling mengalahkan, tetapi untuk saling menguatkan argumen. Bukan untuk memenangkan ego, tetapi untuk menguji kebenaran.
Jika pikiranmu kokoh, ia tidak akan runtuh oleh pertanyaan. Jika pikiranku rapuh, biarlah ia runtuh agar lahir yang lebih jernih.
Di ruang ngopi seperti ini, barangkali kita hanyalah pion-pion kecil. Tetapi pion kecil yang menolak lupa: bahwa kemajuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari keberanian berpikir dan keberanian ditentang.
Dan mungkin, dari meja sederhana inilah, perlawanan terhadap kemunduran itu dimulai. Dan mungkin, seperti biji kopi yang harus digiling sebelum mengeluarkan aroma, pikiran pun harus dihancurkan sedikit agar mengeluarkan makna yang lebih dalam.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel











