Ketika ‘Negeri’ Menjadi Ukuran: Membaca Ulang Makna Keberhasilan Anak

Penulis Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog★

infopertama.com – Di banyak keluarga Indonesia, keberhasilan seorang anak kerap diringkas dalam satu kalimat sederhana: “yang penting masuk universitas negeri.” Kalimat ini terdengar wajar, bahkan penuh harapan.

Namun, di baliknya tersimpan konstruksi sosial yang lebih kompleks—yang tidak hanya membentuk cara orang tua memandang sukses, tetapi juga cara anak memandang dirinya sendiri.

Universitas negeri sering dipersepsikan sebagai simbol kualitas, akses, dan legitimasi. Jumlahnya yang terbatas dibandingkan perguruan tinggi swasta turut memperkuat kesan eksklusif tersebut.

Dalam kajian sosial, kondisi ini membentuk scarcity value—sesuatu yang langka cenderung dianggap lebih bernilai. Tetapi dalam psikologi, kelangkaan ini juga bekerja pada level yang lebih dalam: ia menciptakan standar yang terasa “tidak tergantikan”. Sehingga, alternatif lain kerap dipandang sebagai pilihan kedua, bahkan sebelum dipertimbangkan.

Riset di Jawa Tengah dan DIY menunjukkan bahwa percakapan publik di media sosial masih didominasi narasi “perjuangan masuk PTN”.

Repetisi narasi ini tidak hanya membangun persepsi kolektif, tetapi juga memperkuat apa yang dalam psikologi disebut sebagai normative belief—keyakinan tentang apa yang dianggap benar oleh lingkungan sosial.

Orang tua, sebagai bagian dari lingkungan tersebut, tidak imun. Mereka membawa pengalaman, harapan, dan tekanan sosial yang kemudian membentuk standar keberhasilan anak. Ketika lingkungan memberi apresiasi lebih pada anak yang “lolos PTN,” maka terbentuklah apa yang dalam psikologi sosial dikenal sebagai social reinforcement.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel