Penulis Flora Grace Putrianti, S.Psi., M.Si., M.Psi., Psikolog★
infopertama.com – Di banyak keluarga Indonesia, keberhasilan seorang anak kerap diringkas dalam satu kalimat sederhana: “yang penting masuk universitas negeri.” Kalimat ini terdengar wajar, bahkan penuh harapan.
Namun, di baliknya tersimpan konstruksi sosial yang lebih kompleks—yang tidak hanya membentuk cara orang tua memandang sukses, tetapi juga cara anak memandang dirinya sendiri.
Universitas negeri sering dipersepsikan sebagai simbol kualitas, akses, dan legitimasi. Jumlahnya yang terbatas dibandingkan perguruan tinggi swasta turut memperkuat kesan eksklusif tersebut.
Dalam kajian sosial, kondisi ini membentuk scarcity value—sesuatu yang langka cenderung dianggap lebih bernilai. Tetapi dalam psikologi, kelangkaan ini juga bekerja pada level yang lebih dalam: ia menciptakan standar yang terasa “tidak tergantikan”. Sehingga, alternatif lain kerap dipandang sebagai pilihan kedua, bahkan sebelum dipertimbangkan.
Riset di Jawa Tengah dan DIY menunjukkan bahwa percakapan publik di media sosial masih didominasi narasi “perjuangan masuk PTN”.
Repetisi narasi ini tidak hanya membangun persepsi kolektif, tetapi juga memperkuat apa yang dalam psikologi disebut sebagai normative belief—keyakinan tentang apa yang dianggap benar oleh lingkungan sosial.
Orang tua, sebagai bagian dari lingkungan tersebut, tidak imun. Mereka membawa pengalaman, harapan, dan tekanan sosial yang kemudian membentuk standar keberhasilan anak. Ketika lingkungan memberi apresiasi lebih pada anak yang “lolos PTN,” maka terbentuklah apa yang dalam psikologi sosial dikenal sebagai social reinforcement.
Nilai tertentu diperkuat, diulang, dan pada akhirnya diterima sebagai kebenaran yang jarang dipertanyakan. Namun, masalah muncul ketika persepsi ini menjadi absolut.
Dalam perspektif perkembangan psikososial Erik Erikson, masa remaja hingga dewasa awal adalah fase pencarian identitas (identity vs. role confusion). Pada tahap ini, individu tidak hanya memilih jalan hidup, tetapi juga membangun pemahaman tentang dirinya sendiri.
Ketika definisi sukses terlalu sempit, proses ini berisiko terganggu. Anak tidak lagi bertanya “siapa saya,” melainkan “apa yang diharapkan dari saya.” Perubahan orientasi ini terlihat dalam pola motivasi. Ketika keberhasilan diukur dari pengakuan eksternal—seperti diterima di PTN—motivasi belajar cenderung bergeser menjadi ekstrinsik.
Dalam jangka pendek, hal ini bisa meningkatkan performa. Namun dalam jangka panjang, berbagai studi menunjukkan bahwa dominasi motivasi ekstrinsik berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, kelelahan mental, dan menurunnya kepuasan belajar.
Temuan empiris di Indonesia memperkuat hal ini. Persepsi terhadap harapan orang tua terbukti berkorelasi kuat dengan ketakutan akan kegagalan pada anak.
Yang menarik, tekanan ini sering hadir secara halus—bukan dalam bentuk paksaan langsung, melainkan melalui ekspektasi yang terus diulang, perbandingan sosial, atau bahkan diam yang penuh makna ketika hasil tidak sesuai harapan.
Di sisi lain, teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura menjelaskan bahwa anak belajar melalui observasi. Ketika satu jalur—PTN—secara konsisten dirayakan, maka anak akan menginternalisasi nilai tersebut tanpa banyak refleksi.
Di titik ini, pilihan pendidikan tidak lagi sepenuhnya merupakan hasil pertimbangan personal, tetapi juga hasil dari proses peniruan sosial yang berlangsung terus-menerus. Fenomena ini kemudian diperkuat oleh labeling effect.
Status “diterima PTN” tidak hanya menjadi capaian akademik, tetapi juga identitas sosial. Sebaliknya, tidak diterima dapat memicu apa yang dalam psikologi disebut sebagai self-doubt—keraguan terhadap kemampuan diri yang sering kali tidak proporsional dengan kenyataan.
Padahal, penelitian menunjukkan bahwa persepsi tentang kualitas pendidikan tinggi banyak dibentuk melalui interaksi dalam keluarga, bukan semata evaluasi objektif. Dengan kata lain, apa yang dianggap “baik” sering kali adalah hasil kesepakatan sosial yang diwariskan, bukan kebenaran universal.
Faktor ekonomi turut memperkuat persepsi ini. Biaya yang relatif lebih terjangkau membuat universitas negeri tampak sebagai pilihan paling rasional. Namun, dalam psikologi keputusan, rasionalitas sering kali tidak berdiri sendiri; ia berkelindan dengan emosi, norma, dan kebutuhan akan pengakuan sosial.
Di titik ini, penting untuk melihat kembali pertanyaan mendasar: apakah kesuksesan memang sesempit itu? Dalam psikologi modern, kesuksesan lebih dekat dengan konsep well-being—keseimbangan antara pencapaian, kepuasan hidup, dan kesehatan mental. Ini berarti bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari “di mana seseorang diterima,” tetapi juga dari “bagaimana seseorang berkembang.”
Ketika anak belajar di lingkungan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, ia cenderung menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi, resiliensi yang lebih kuat, dan kepuasan yang lebih stabil.
Sebaliknya, ketika pilihan didasarkan semata pada tekanan eksternal, proses belajar dapat kehilangan makna personalnya. Dunia kerja saat ini pun bergerak ke arah yang lebih fleksibel. Keterampilan, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi menjadi lebih menentukan dibandingkan asal institusi.
Dalam konteks ini, mempertahankan satu definisi sukses justru berisiko membatasi potensi anak yang seharusnya bisa berkembang secara lebih luas. Maka, yang perlu ditinjau ulang bukanlah harapan orang tua, melainkan bagaimana harapan itu dimaknai dan disampaikan.
Alih-alih bertanya, “kamu lolos PTN atau tidak?”, mungkin pertanyaan yang lebih relevan adalah, “apa yang membuatmu ingin belajar di sana?” atau “di mana kamu merasa bisa berkembang?”
Pertanyaan semacam ini tidak menghilangkan arah, tetapi membuka ruang refleksi.
Pada akhirnya, dari sudut pandang psikologis, keberhasilan bukan hanya tentang mencapai standar tertentu, tetapi tentang bagaimana individu membangun relasi yang sehat dengan dirinya sendiri—mengenali potensi, menerima keterbatasan, dan menjalani pilihan hidup dengan kesadaran.
Dan proses itu, sering kali, tidak selalu mengikuti satu jalur yang sama.
★Dosen Fakultas Psikologi UST Owner Harmonia Psychocare
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel







