Ketika ‘Negeri’ Menjadi Ukuran: Membaca Ulang Makna Keberhasilan Anak

Nilai tertentu diperkuat, diulang, dan pada akhirnya diterima sebagai kebenaran yang jarang dipertanyakan. Namun, masalah muncul ketika persepsi ini menjadi absolut.

Dalam perspektif perkembangan psikososial Erik Erikson, masa remaja hingga dewasa awal adalah fase pencarian identitas (identity vs. role confusion). Pada tahap ini, individu tidak hanya memilih jalan hidup, tetapi juga membangun pemahaman tentang dirinya sendiri.

Ketika definisi sukses terlalu sempit, proses ini berisiko terganggu. Anak tidak lagi bertanya “siapa saya,” melainkan “apa yang diharapkan dari saya.” Perubahan orientasi ini terlihat dalam pola motivasi. Ketika keberhasilan diukur dari pengakuan eksternal—seperti diterima di PTN—motivasi belajar cenderung bergeser menjadi ekstrinsik.

Dalam jangka pendek, hal ini bisa meningkatkan performa. Namun dalam jangka panjang, berbagai studi menunjukkan bahwa dominasi motivasi ekstrinsik berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, kelelahan mental, dan menurunnya kepuasan belajar.

Temuan empiris di Indonesia memperkuat hal ini. Persepsi terhadap harapan orang tua terbukti berkorelasi kuat dengan ketakutan akan kegagalan pada anak.

Yang menarik, tekanan ini sering hadir secara halus—bukan dalam bentuk paksaan langsung, melainkan melalui ekspektasi yang terus diulang, perbandingan sosial, atau bahkan diam yang penuh makna ketika hasil tidak sesuai harapan.

Di sisi lain, teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura menjelaskan bahwa anak belajar melalui observasi. Ketika satu jalur—PTN—secara konsisten dirayakan, maka anak akan menginternalisasi nilai tersebut tanpa banyak refleksi.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel