Di titik ini, pilihan pendidikan tidak lagi sepenuhnya merupakan hasil pertimbangan personal, tetapi juga hasil dari proses peniruan sosial yang berlangsung terus-menerus. Fenomena ini kemudian diperkuat oleh labeling effect.
Status “diterima PTN” tidak hanya menjadi capaian akademik, tetapi juga identitas sosial. Sebaliknya, tidak diterima dapat memicu apa yang dalam psikologi disebut sebagai self-doubt—keraguan terhadap kemampuan diri yang sering kali tidak proporsional dengan kenyataan.
Padahal, penelitian menunjukkan bahwa persepsi tentang kualitas pendidikan tinggi banyak dibentuk melalui interaksi dalam keluarga, bukan semata evaluasi objektif. Dengan kata lain, apa yang dianggap “baik” sering kali adalah hasil kesepakatan sosial yang diwariskan, bukan kebenaran universal.
Faktor ekonomi turut memperkuat persepsi ini. Biaya yang relatif lebih terjangkau membuat universitas negeri tampak sebagai pilihan paling rasional. Namun, dalam psikologi keputusan, rasionalitas sering kali tidak berdiri sendiri; ia berkelindan dengan emosi, norma, dan kebutuhan akan pengakuan sosial.
Di titik ini, penting untuk melihat kembali pertanyaan mendasar: apakah kesuksesan memang sesempit itu? Dalam psikologi modern, kesuksesan lebih dekat dengan konsep well-being—keseimbangan antara pencapaian, kepuasan hidup, dan kesehatan mental. Ini berarti bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari “di mana seseorang diterima,” tetapi juga dari “bagaimana seseorang berkembang.”
Ketika anak belajar di lingkungan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, ia cenderung menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi, resiliensi yang lebih kuat, dan kepuasan yang lebih stabil.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel






