Cepat, Lugas dan Berimbang

Merawat Jenuh, Menghidupkan Kembali Literasi

Membaca, dalam hal ini, bukan sekadar aktivitas mencari informasi. Ia adalah laku batin. Dari membaca, seseorang diajak berdialog dengan gagasan, menimbang makna, dan menyadari keterbatasan diri. Membaca juga melatih kesabaran merupakan sebuah adab penting dalam menuntut ilmu.

Dalam tradisi pesantren, kejenuhan bukan hal asing. Para santri menghadapinya dalam rutinitas ngaji yang panjang dan berulang. Namun, justru dari proses itu lahir ketekunan, kedalaman, dan kematangan sikap. Jenuh tidak selalu dihindari, melainkan dilampaui dengan kesadaran.

Di sinilah kita bisa melihat bahwa kejenuhan bukan semata-mata masalah, melainkan bagian dari perjalanan. Ki Hadjar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya memerdekakan. Dalam Islam, kemerdekaan itu selaras dengan kesadaran sebagai hamba yang berpikir, merenung, dan mencari makna hidup dengan penuh tanggung jawab.

Tanpa ruang untuk berhenti dan merenung, belajar mudah berubah menjadi rutinitas tanpa jiwa. Kita bergerak, tetapi tidak benar-benar memahami ke mana arah yang dituju.

Kejenuhan, jika diterima dengan jujur, bisa menjadi titik balik. Ia mengajak kita untuk tidak sekadar melanjutkan langkah, tetapi juga memeriksa arah. Ia mengingatkan bahwa belajar bukan hanya soal seberapa jauh kita berjalan, tetapi juga seberapa dalam kita memahami.

Hidup tidak selalu menuntut kita untuk berlari. Ada saatnya kita perlu berjalan perlahan, bahkan berhenti sejenak, agar tidak kehilangan makna di tengah perjalanan.

Merawat kejenuhan, dengan demikian, adalah bagian dari merawat kesadaran. Dari sana, kita belajar mendengar kembali suara batin, menata ulang niat, dan menghidupkan kembali semangat literasi sebagai jalan memahami diri, sesama, dan Tuhan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN