Cepat, Lugas dan Berimbang

Modernitas dan Hutan yang Hilang

Ironisnya, kerusakan ekologis sering dianggap sebagai ongkos yang wajar demi masa depan. Seolah-olah kemajuan selalu membutuhkan korban. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa pembangunan yang mengabaikan alam justru meninggalkan krisis baru, banjir, kekeringan, konflik ruang hidup, hingga ketimpangan sosial yang semakin tajam.

Kita menyebut diri bangsa modern, tetapi masih melihat alam semata sebagai benda mati yang boleh dihabiskan. Di banyak tempat, rakyat kecil justru menjadi kelompok pertama yang menanggung akibatnya.

Petani kehilangan sawah karena alih fungsi lahan. Nelayan kehilangan laut akibat pencemaran. Masyarakat adat kehilangan hutan karena izin industri. Sementara itu, keuntungan pembangunan lebih banyak berputar di pusat-pusat kekuasaan dan modal. Lalu, untuk siapa sebenarnya modernitas itu dibangun?

Pertanyaan ini penting karena sebuah bangsa tidak bisa disebut maju hanya karena memiliki gedung tinggi dan industri besar. Kemajuan seharusnya juga diukur dari kemampuannya menjaga kehidupan termasuk kehidupan manusia yang paling rentan dan alam yang paling sering dikorbankan.

Di tengah situasi itu, pendidikan pun sering gagal melahirkan kesadaran ekologis. Sekolah mengajarkan manusia cara menguasai alam, tetapi jarang mengajarkan bagaimana hidup berdampingan dengannya. Kita didorong menjadi tenaga kerja modern, tetapi tidak dibiasakan untuk memahami batas antara kebutuhan dan keserakahan.

Akibatnya, manusia modern tumbuh dengan kemampuan teknologi yang tinggi, tetapi miskin empati ekologis. Barangkali inilah paradoks terbesar peradaban hari ini: manusia berhasil menaklukkan alam, tetapi gagal menaklukkan kerakusannya sendiri.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN