Kepentingan Sekolah Tinggi adalah memperbaiki dan mengalikan input, proses, dan output, bukan dengan inovasi melainkan dengan memuliakan tradisi melalui rekognisi, refleksi, dan restorasi. Di bawah kepentingan (ideologi) ada kegiatan (metodologi) dan kebutuhan. Kegiatan adalah kerja metodologis untuk menghubungkan antara kebutuhan dan kepentingan. Ketika orang sibuk bicara kebutuhan maka hanya melakukan kegiatan untuk mencukupi kebutuhan dengan cara menghabiskan ketimbang menghasilkan, yang tidak akan menyentuh kepentingan. Ketika kegiatan hanya bersifat rutin untuk memenuhi kebutuhan, maka ia tidak sanggup berkontribusi terhadap kepentingan. Kegiatan rutin tetap kita lakukan, tetapi ada tiga kegiatan penting yang harus kita kerjakan untuk memperjuangkan kepentingan Sekolah Tinggi: learning, bonding, dan sounding.
Learning harus kita lakukan sebagai pembuka sebelum mendidik, mengajar, melayani, membimbing, termasuk belajar memberi makna terhadap penjara kelas kuliah. Dosen tidak cukup sibuk bekerja menggugurkan kewajiban atau rapat, mengajar, meneliti, mengabdi, membimbing, melayani, tetapi yang paling hakiki adalah belajar tentang makna kewajiban, kehormatan, dan rangkaian kegiatan Tri Dharma itu.
Belajar tentang ilmu kerakyatan yang kritis, interpretif, dan naratif wajib dilakukan oleh dosen, tentu dengan penghayatan yang seksama. Dosen dan mahasiswa jangan sibuk menikmati urban sosialita sebagai gaya hidup dan pandangan hidup rakyat jelita, tetapi penting belajar dan bergulat dengan people sociability, untuk memupuk ilmu kerakyatan yang berguna untuk rakyat.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





