Kedua, jika pada sisi nilai, kemasyarakatan lebih menonjol ketimbang kerakyatan, pada sisi nalar, “ilmu kemajuan” lebih dominan daripada “ilmu kerakyatan”. “Ilmu kerakyatan” adalah sebuah corpus utuh yang mengandung interaksi sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Manusia secara utuh adalah makhluk sosial, budaya, ekonomi, dan politik, yang ketika menjadi rakyat dalam bernegara, keempat dimensi itu tetap melekat. Ketika orang bicara sosial-ekonomi dan sosial-budaya tanpa politics dan ekononomi-politik, maka mereka ikut mengawetkan komunalisme, paternalisme, dan despotisme, dengan tanda miskin bersama, mangan orang mangan kumpul yen kumpul mangan, guyub rukun ayem tentrem ning ora makmur, miskin tetapi bahagia. Ketika orang bicara budaya-ekonomi tanpa politik dan ekonomi-politik maka hanya akan sibuk mempromosikan dan melatih kewirausahaan pada segelintir orang yang disenangi oleh neoliberalisme. Ketika orang rajin bicara sosial-politik tanpa politics, political, dan political economy, maka hanya sibuk mengungkap tokoh besar, oligarki, otoriterisme, populisme, politik uang, korupsi, yang justru sangat anti-politik.
“Ilmu kemajuan” adalah anak kandung modernisme yang mengejar cita-cita modernitas. Ciri khas pertama ilmu kemajuan adalah spesialisasi untuk tujuan fokus dan profesional, yang melakukan mutilasi terhadap corpus sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Manajemen, administrasi publik, maupun ilmu pemerintahan berhaluan manajemen publik, telah melakukan mutilasi dan meninggalkan keutuhan empat dimensi rakyat, membentuk spesialisasi profesional yang sibuk bicara efisiensi dan efektivitas. Ini adalah ilmu yang aneh dan ganjil. Ronald Purser, seorang profesor manajemen yang sudah bekerja lebih dari dua dekade justru melakukan tobat terhadap manajemen yang dia ajarkan. Melalui artikel Against Managerialism (2024), Purser berujar bahwa manajerialisme, sebuah ideologi yang begitu meluas sehingga tampak jinak, adalah tentang pemuliaan sekelompok orang elite—manajer—yang dikatakan memenuhi syarat secara unik untuk memiliki kekuasaan atas pekerja dan perusahaan. Bagi Purser, memahami sejarah manajerialisme sangat penting karena ideologi ini secara berbahaya memperkuat mandat kapitalis pertumbuhan ekonomi dan keuntungan tanpa akhir, yang kini mendorong kita menuju keruntuhan iklim.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





