Cepat, Lugas dan Berimbang

Memuliakan Tradisi Kampus Bonek STPMD APMD Yogyakarta

Tunggang-langgang, berbeda dengan semangat ngeli ning ora keli, adalah proyek inovatif yang selalu latah dan salah kaprah, karena tidak memiliki pijakan tradisi yang kokoh.

Dengan sentuhan inovasi, sejumlah kampus plat merah, kampus darah biru, dan kampus padat modal telah mengalami kemajuan dan keunggulan secara pesat, tumbuh menjadi “kampus pabrik” yang sanggup mencetak manusia-manusia unggul, bergengsi, dan berguna untuk dirinya, tetapi tidak terhubung dengan dunia rakyat dan cita-cita konstitusi.

Para hadirin, Cita rasa kampus bonek yang begitu dekat dengan kerakyatakan adalah mukadimah tradisi Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD”. “STPMD adalah kampus desa, kampus kemanusiaan, kampus kerakyatan, kampus solidaritas”, demikian seru Natalius Pigai, seorang alumni, Menteri HAM Republik Indonesia, pada Sarasehan Kampus Sarjana Rakyat untuk Republik, 13 November 2025 lalu.

Mukadimah tradisi adalah dasar dan pembuka, yang membentuk kebajikan, nilai, filosofis, metodologi, dan pedadogi penyelenggaraan Tri Dharma maupun jiwa-raga ilmu yang diampu oleh Sekolah Tinggi. Apakah kampus kerakyatan, yang direpresentasikan menjadi Kampus Sarjana Rakyat, adalah “harga mati” seperti NKRI “harga mati”? Tidak! Kalau Kampus Sarjana Rakyat “harga mati” maka akan menjadi dogma, normatif, berhala, atau omon-omon belaka. Kampus Sarjana Rakyat adalah “harga hidup”, yang bukan diberhalakan atas nama indoktrinasi secara fasis, bukan pula diabaikan atau dimatikan atas nama inovasi, melainkan dimuliakan dengan cara rekognisi, refleksi, dan restorasi, sebagai rahmat hidup, kehidupan, dan penghidupan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN