Para hadirin, Saya sadar bahwa setiap tempat adalah political sphere dan setiap gagasan selalu politically contested. Gagasan memuliakan tradisi kampus kerakyatan pasti disambut dengan kontestasi politik. Ada orang-orang yang ndableg cuek bebek, mendengar gagasan masuk telinga kanan keluar telinga kiri, lewat begitu saja tanpa penghayatan, kecuali gagasan yang memenuhi kebutuhan diri mereka. Orang-orang reaksioner, yang anti-kekuasaan dan anti-perubahan, biasa menyampaikan reaksi negatif terhadap gagasan tanpa melalui dialog yang bermartabat. Kaum reaksioner pasti tidak suka dan tidak mau mengucapkan “sarjana rakyat”.
Kadang kaum reaksioner menjadi apatis-autis, sibuk dengan dirinya sendiri, mengisolasi diri dari keramaian kehidupan kampus, tidak mau diskusi atau sinau bareng, meskipun tetap menuntut hak setelah menggugurkan kewajiban, serta meminta layanan otoritas Sekolah Tinggi.
Jika tertawa tidak bisa mengobati wong ndableg, maka biarkan waktu yang menjawabnya. Gagasan yang saya sampaikan hari ini, tentu tidak akan mengubah kampus secara cepat, tetapi menjaga sikap secara koheren dan konsisten penting dilakukan untuk mengantarkan perubahan. Kelak pergantian generasi yang tidak terlalu lama akan memanen hasil atas gagasan hari ini, jika ketika generasi penerus istiqomah dengan memuliakan tradisi melalui rekognisi, refleksi, dan restorasi. Pasar kita memang sempit, tetapi percayalah, bahwa ladang kita masih luas. Tekad dan nekat memuliakan tradisi adalah jalan yang lebih tepat bagi kampus bonek untuk menggarap ladang luas, sekaligus mengubah ladang menjadi pasar.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





