Cepat, Lugas dan Berimbang

Memuliakan Tradisi Kampus Bonek STPMD APMD Yogyakarta

Mahasiswa bukanlah orang jahat yang menjadi narapidana dalam penjara. Ketika melawan penjara, mahasiswa akan menjadi orang konyol yang anti-sosial. Mahasiswa yang meninggalkan penjara, alias tidak masuk penjara, akan menjadi orang tolol yang memborong kebodohan. Mahasiswa yang menikmati penjara akan menjadi orang kerdil, bisa memiliki indeks prestasi sangat tinggi, tetapi tidak mengetahui apa yang diketahui. Relasi paternalistik dan pengajaran teknokratik yang begitu dinikmati memang hanya membuat klien yang tunduk dan patuh. Mahasiswa yang memberi makna penjara dengan tradisi otodidak akan memperoleh hikmah berharga, hadir sebagai manusia yang bebas dan merdeka selepas keluar dari penjara, sekaligus menjadi sarjana rakyat yang sejati.

Dengan pendekatan realis-interpretif, saya hendak mengatakan bahwa penjara adalah sebuah jalan bermakna untuk pembebasan manusia, tanpa harus romantis mengikuti petuah Ivan Illich dan Paulo Freire. Saya bisa mengatakan begini karena saya pernah mahasiswa yang menjalani dan memaknai ilmu guru, ilmu buku, dan ilmu laku dalam penjara, yang dari waktu ke waktu menertawakan diri sendiri, adrenaline saya selalu meningkat ketika digasak dan diasah oleh guru, serta selalu bersyukur karena tumbuh menjadi sarjana rakyat yang tidak silau dengan gengsi modernitas.

Pendidikan paternalistik di kampus bonek hadir melalui rutinitas mengajar, melayani, menolong, membimbing, membina, memfasilitasi, mendampingi mahasiswa, yang jauh lebih menonjol daripada tradisi belajar dan mendidik. Bukan dengan despotisme yang rakus dan sewenang-wenang, paternalisme hadir dengan wajah kebaikan kasih-sayang dan asih-asuh kepada mahasiswa, yang sedikit menyentuh kemanusiaan tetapi dalam pengertian unpolitical humanism. Kebaikan paternalisme melalui pelayanan perlu dibongkar.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN