Ndableg adalah kumpulan sakit dan penyakit. Orang ndableg berarti tidak secara otentik dan bermakna memuliakan kampus APMD sebagai rahmat hidup, kehidupan, dan penghidupan. Inovasi dan aturan bukanlah obat sakit-penyakit ndableg. Aturan hanya obor blarak yang memperparah tindakan sekadar menggugurkan kewajiban tanpa makna dan penghayatan. Obat ndableg tidak lain adalah tradisi tertawa bersama sambil minum wedang (ngawe kadang) dan madhang (matane padhang), serta menertawakan diri sendiri, kecuali bagi mereka yang memang sulit dan mahal tertawa.
Para hadirin, Sekarang kampus bonek bersifat nanggung, berada di persimpangan jalan. Tradisi agung tidak ditinggalkan tetapi tidak diutamakan dan tidak dihayati dengan seksama, namun juga tidak sanggup mengejar inovasi modernitas. Social bonding, kebanggaan, dan gethok tular sudah tipis dan jarang dibicarakan, namun orang bisa berbuih-buih dan lara lapa ketika bicara dan mengerjakan standarisasi dan borangisasi akreditasi. Baik inovasi maupun akreditasi hanya kebutuhan, kewajiban, dan kepatuhan yang tidak mencerminkan tradisi dan kepentingan Sekolah Tinggi. Inovasi sekadar kebutuhan, seperti halnya orang butuh gawai, wifi, ruang, kendaraan, serta sarana dan prasana lain, yang tidak perlu dibicarakan berbuih-buih, melainkan cukup dieksekusi. Karena kewajiban dan kepatuhan, akreditasi mau tidak mau, harus dipenuhi dan dijalankan. Alangkah baiknya jika akreditasi dijalankan dengan pendekatan yang otentik dan bermakna, tetapi jika tidak bisa, maka cukup dengan borangisasi.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel





