Cepat, Lugas dan Berimbang

Memuliakan Tradisi Kampus Bonek STPMD APMD Yogyakarta

Berbeda dengan inovasi yang melawan tradisi, rekognisi adalah pengakuan, yakni mengakui terhadap nilai, realitas, dan tradisi di balik cita-rasa kerakyatan yang melekat pada kampus bonek. Refleksi berarti melihat-mencari kembali pergulatan antara keyakinan dan realitas yang bergerak secara dinamis serta berpengaruh terhadap denyut hidup, kehidupan, dan penghidupan kampus bonek. Refleksi juga bisa bermakna melihat cermin besar atau menertawakan diri sendiri, yang membuat kita menjadi lebih segar, terang, dan jernih dalam menemukan siapa kita, mengapa kita ada, dan mau kemana kita pergi. Serupa dengan representasi, kosakata restorasi berarti menggali dan menghadirkan kembali tradisi agung kampus bonek, sebagai cahaya yang menyinari dan daya yang menguatkan jiwa-raga dan standing Sekolah Tinggi dalam menemukan masa depan.

Dengan begitu memuliakan bukan berarti memberhalakan atau mengawetkan, melainkan menghormati, mengakui, mengkritik, menyegarkan, menghidupkan, mempertajam, memperdalam, memperluas, dan memperkuat tradisi sebagai cahaya, identitas, posisi, kebajikan, dan kekuatan bagi Sekolah Tinggi.

Dengan rekognisi, refleksi, dan restorasi saya akan menunjukkan sejumlah realitas tradisi kampus bonek. Pertama, semangat kemanusiaan dan kemasyarakatan jauh lebih tebal ketimbang semangat kerakyatan. Semangat kemanusiaan diwujudkan dengan pergaulan kasih-sayang dan tolong menolong terhadap manusia yang melampaui perbedaan suku, daerah, ras, warna kulit, agama, aliran. Semangat kemasyarakatan ditunjukkan dengan kebiasaan civitas akademik bicara masyarakat sebagai konsep antropologis klasik ketimbang rakyat sebagai konsep politik, memiliki kepekaan terhadap masyarakat setempat, berbeda dengan mentalitas birokratik yang memberhalakan formalisme, proseduralisme, administratif, dan aturanisme. Masyarakat dalam tradisi kemasyarakatan memang menyentuh rakyat, dalam pengertian kumpulan rakyat dalam pengertian folk (asli, setempat, lokal, adat, wong ndeso, dan lain-lain), dengan pendekatan paternalisme yang mengandung sosial-budaya dan sosial-ekonomi yang abai terhadap politik dan people. Ketika sebagian besar dosen, mahasiswa, dan alumni birokrat lebih suka bicara masyarakat, sejumlah kecil alumni yang mengalami transformasi menjadi pemimpin politik mulai bicara tentang rakyat, tanpa meninggalkan tradisi kemasyarakatan.

Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel 

 

PLN